Tawakal Itu Bukan Sekedar Pasrah

0
982

Musibah telah datang menimpa tanah air kita secara silih berganti. Dimulai dari tsunami, gempa bumi, kelaparan, flu burung, Lumpur panas, pesawat hilang, kapal tenggelam, angin puting beliung dan angin topan, ini merupakan ujian dari Allah terhadap keimanan seorang muslim. Apakah mereka mampu untuk tegar didalam Islam dalam menghadapi semua musibah ini semua ataupun sebaliknya.

Sebenarnya Islam telah memberikan solusi kepada kita untuk ini semua, coba renungkanlah sabda Rosulullah Shalallahu alaihi wa salam :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَالكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

” Sungguh sangat menakjubkan perkara seorang muslim. Semua perkaranya adalah baik. Tidaklah hal itu dimiliki kecuali bagi orang mukmin. Yaitu jika menerima nikmat dia bersyukur maka ini baik untuknya dan jika tertimpa musibah dia bersabar dan ini juga baik baginya. (HR. Muslim 2999)

Kewajiban lain setelah bersabar bagi seorang mukmin ketika menghadapi musibah adalah tawakal kepada Allah. Dengan bertawakal seorang mukmin akan mendapatkan jalan keluar dan kemudahan dalam menghadapi semua musibah dari Allah.

Pengertian tawakal :

Tawakal adalah menyerahkan semua urusan kepada pihak lain atau menggantungkan kepadanya. Hal ini disebabkan karena percaya penuh kepada yang diserahi atau tidak kemampuan menangani sendiri. ( lihat an Nihayah fi gharibil hadits, Ibnu Atsir, 5/221 ).

Imam Ibnu Rajab berkata :”Hakekat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah ta’ala guna memperoleh maslahat dan menolak madharat dari urusan-urusan dunia dan akherat dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya.” ( Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 588, hadits no. 49 )

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata :”Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi disertai percaya penuh kepada Allah dan menempuh sebab yang diizinkan syariat”.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tawakal mempunyai dua syarat :

1. Penyandaran kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan nyata.

2. Harus menempuh sebab yang diizinkan syariat.

Urgensi Tawakal

Tawakal adalah separuh agama. Separuh lainnya adalah inabah. Sebab agama itu terdiri dari isti’anah dan ibadah. Tawakal adalah isti’anah sedangkan inabah adalah ibadah. Bahkan merupakan peribadatan semata-mata dan tauhid murni, jika pelakunya benar-benar melaksanakannya.( lihat Madarijus salikin, Ibnu Qayyim, 2/118 )

Dalil Tawakal

Allah Subhanahu wa ta’ala  berfirman :

وَ تَوَكَّلْ عَلَى اللهِ وَ كَفَى بِاللهِ وَكِيْلاً

” Dan tawakallah engkau kepada Allah.Dan sesunguhnya Cukuplah Allah sebagai pelindung. (QS. An Nisa’ :81)

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

” Kemudian apabila kamu telah membuat tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.( Ali Imran :159 ).

وَعَلىَ اللهِ فَتَوَكَّلُواْ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

” Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar oarang yang beriman.( QS. al-Maidah :23 ).

Rosullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda :

وَيَدْخُلًُ الْجَنَّةَ مِنْ هَؤُلاَءِ سَبْعُوْنَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ هُمُ الَّّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

” Sesungguhnya akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan siksa, mereka adalah orang-orang yang tidak minta ruqyah, tidak menyandarkan kesialan kepada burung dan sejenisnya,tidak berobat dengan besi panas dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka.( HR. Muslim).

Tawakal Bukan pasrah

Banyak orang yang meyangka bahwa tawakal itu adalah pasrah secara keseluruhan, maka ini adalah anggapan yang tidak benar. Akan tetapi seorang mukmin jika beribadah kepada Allah mereka bertawakal, tetapi tidak seperti yang dipahami oleh orang-orang yang bodoh yakni tawakal adalah sekedar ucapan dibibir tanpa dipahami akal, membuang sebab-sebab, tidak mau kerja, merasa puas dengan kehinaan dibawah bendera tawakal kepada Allah ta’ala, dan ridha dengan takdir yang terjadi padanya. Bahkan seorang mukmin memahami tawakal bahwa tawakal  itu merupakan bagian dari imannya dan aqidah ialah ta’at kepada Allah dengan menghadirkan semua sebab yang diperlukan dalam semua berbuatan yang hendak ia kerjakan. Ia tidak berambisi kepada buah tanpa memberikan sebab-sebabnya,dan tidak mengharap hasil tanpa meletakkan perantaranya.

Perhatikan dalil-dalil berikut

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

” Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.( Qs. Thalaq:3 ).

Dalam ayat ini Allah akan memberi kecukupan kepada orang-orang yang bertawakal termasuk rizki. Apakah artinya orang tersebut tidak berupaya dan tidak kerja lantas tiba-tiba memperoleh rizki dari langit ? Apakah ada orang yang berkeinginan memiliki anak tetapi tidak pernah mengumpuli istrinya diberi anak? Tentu tidak demikian.

Orang yang ingin terpenuhi kebutuhannya harus bekerja, sama halnya orang yang ingin punya anak harus beristri dan mengumpuli istrinya. Jadi tidak mungkin Allah memberi rizki kepada seseorang tanpa upaya sedikitpun.

Rosulullah Shalallahu alaihi wa salam juga bersabda :

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يَرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَاناً.

” Dari Umar bin Khatab,Rasulullah n bersabda,”Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarmya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi dengan perut kosong dan pulang sore dengan perut kenyang”.( Shahih, Tirmidzi 2344 dan berkata,haditsHasan shahih, Ibnu Majah 4164, Ahmad, dishahihkn al Albani ).

Tawakalnya burung adalah dengan pergi mencari makan pada pagi harinya dan kembali pada sore harinya, maka Allah menjamin dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung -burung itu tidak tidur saja disarang sambil menunggu makanan datang tetapi pergi jauh mencari makanan untuk dirinya dan anak-anaknya. Begitu pula seharusnya manusia, apalagi dia diberi kelebihan yang sangat banyak dibanding seekor burung.

Kita telah mengetahui bahwa Nabi Shalallahu alaihi wa salam adalah orang yang paling bertawakal, contohnya ketika beliau menunggu perintah Allah Subhanahu wa ta’ala untuk hijrah ke madinah sebelum sahabat-sahabat terkemuka hijrah kesana, dan betul perintah tersebut datang kepada beliau. Langkah-langkah yang disusun Rosulullah Shalallahu alaihi wa salam untuk kesuksesan hijrahnya adalah :

1. Memanggil sahabat pilihan yang tidak lain adalah Abu Bakar Ash-Shidiq untuk menemani  beliau dalam perjalannya ke negeri hijrahnya.

2. Menyiapkan bekal perjalanan, makanan, minuman. Asma’ binti Abu Bakar mengikat perbekalan tersebut dengan ikat pinggangnya, hingga kemudian ia dijuluki ” wanita yang mempunyai dua ikat pinggang”.

3. Menyiapkan hewan kendaraan yang siap dinaiki dalam perjalanan yang sulit, dan panjang.

4. Menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengetahui jalan-jalan yang sulit agar orang tersebut menjadi pemandu dalam perjalanan yang sulit..

5. Ketika beliau hendak keluar dari rumahnya yang dikepung musuh-musuhnya agar beliau tidak bisa keluar daripadanya, maka beliau menyuruh anak pamannya yaitu Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu untuk tidur diranjangnya untuk mengelabui musuh-musuhnya yang menuggu diluar rumah yang akan membunuhnya. Setelah itu beliau keluar dari rumah dengan tenang tanpa diketahui oleh musuhnya.

6. Ketika orang-orang musyrikin mengejar beliau, dan sibuk mencari beliau bersama yang ikut bersama beliau, maka beliau masuk ke Gua Tsur dan berlindung diri darinya dari penglihatan mata orang -orang yang mencari dan dendam kepada beliau.

7. Ketika Abu Bakar berkata :”Seandainya salah seorang diantara mereka melihat dibawah kakinya, mereka pasti bisa melihat kita, Wahai Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam !” maka Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :”Bagaimana dugaanmu terhadap dua orang, wahai abu Bakar, bahwa pihak ketiga adalah Allah ?”

Demikianlah pembahasan singkat tentang tawakal yang benar menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafus shalih. Semoga bisa menjadikan pemahaman kita benar tentangnya dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang tawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal. Wallahu ‘Alam

Ibnu Al Buhairy

Maraji’ :

-Majalah Al-Furqon Edisi 3/V/1426H/2005M.

-Syarh Riyadzus Sholihin Ibnu Utsaimin.

-Minhajul Muslim Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.

-Dll.

Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah

Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Android berikut ini 

Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini


Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY