Sudahkah Engkau Tunaikan Adab Kepada Tetanggamu ?

0
1048

Islam adalah agama yang sempurna, agama yang adil dan bijaksana, yang membawa umat manusia kepada nilai-nilai luhur di segi ukhrowi maupun duniawi, yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah ta’ala saja.

Diantara kesempurnaan ajaran islam, yang tidak butuh kepada penambahan ataupun pengurangan keseluruhannya telah disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, diantaranya berupa akhlak-akhlak yang mulia, yang dapat membuahkan sebuah keharmonisan dalam berbagai sistem kehidupan dengan sebab itulah beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam diutus, sebagaimana sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”  

Kemuliaan akhlaq Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam tak dapat dipungkiri lagi, termasuk sebab atau pendorong orang-orang musyrik atau kafir untuk memeluk agama Islam. Dan diantara nilai luhur yang diajarkan islam kepada kita dalam bentuk akhlak adalah memberikan hak-hak tetangga, dengan berbuat baik kepadanya, tidak menyakiti dan sabar atas gangguan-gangguan mereka. Karena Allah dan Rasul-Nya telah menjelaskan kepada kita tentang besarnya hak tetangga, sebagaimana Allah ta’ala berfirman, yang menerangkan kepada kita untuk berbuat baik kepada tetangga :

وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

“Dan tetangga yang dekat dan yang jauh”. [ An-Nisa’ : 36 ].

Fenomena yang terjadi pada akhir zaman ini, dari kemerosotan akhlaq dan moral, meningkatnya kerusakan dalam masalah agama maupun dunia, menjadikan masalah tetangga sering terhilangkan, banyak diantara mereka kaum muslimin Allahumusta’aan-, meremehkannya. Sehingga terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan seperti: saling menggunjing, memfitnah, adu domba, acuh tak acuh, mencaci maki, mengecam, saling menggangu entah itu dengan perkataan ataupun perbuatan. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam telah melarang perbuatan seperti itu, sebagaimana sabdanya :

وَاللهِ لَا يُؤْمِنَ, وَاللهِ لَايُؤْمِنَ, وَاللهِ لَايُؤْمِنَ, قَالُو: مَنْ يَارَسُوْلَ الله ؟ قَالَ : مَنْ لَايُؤْمِن جَارَهُ بِوَائِقِهِ

” Demi Allah, seorang belum bisa disebut beriman (mengulanginya tiga kali)”. Salah satu sahabat bertanya : “Siapakah orang yang Engkau maksud tersebut, wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab : “Yaitu orang yang membuat tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya”. [ Mutafaqun ‘alaih ].

Berkata Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin ” Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang haramnya bermusuhan atau menyakiti tetangga, baik itu dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun dengan perkataan, seperti membicarakan sesuatu yang  mencemaskan dan meresahkan tetangga, misalnya mengeraskan radio atau yang sejenisnya yang hal itu dapat mengganggu tetangga, maka hal ini tidak halal baginya, bahkan apabila dia membaca Al-Qur’an yang dengan suara itu sengaja untuk mengganggu tetangganya, maka itu tidak halal baginya untuk melakukannya. Adapun dalam bentuk perbuatan seperti membuang sampah di sekitar rumahnya, atau dengan menunjukkan sifat-sifat tercela kepadanya, bermuka masam, acuh tak acuh dan lain-lain. Dan haram bagi kita untuk menyakiti tetangga, dan sesungguhnya menyakitinya termasuk dosa besar”. ( wal ‘iya dzu billah ).

Apabila hal-hal yang semacam itu terjadi, maka akan rusaklah tali persaudaraan sesama muslim, dan semakin melemahlah kekuatan diantara mereka. Padahal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam telah memerintahkan kita agar saling bersaudara. Sebagaimana sabdanya :

…وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانَا.

“….Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”. [ HR. Muslim ]

Dan untuk menambah kewaspadaan kita terhadap hal ini, mari kita simak hadits berikut ;

” Telah dikatakan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam : “Wahai Rasulallah ! Sesungguhnya fulanah ( wanita ), melakukan qiyamul lail ( sholat malam ), berpuasa di siang hari, melakukan begini dan begitu ( berbuat baik ) dan bersedekah, akan tetapi dia mengganggu tetangganya dengan lisannya? Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penduduk neraka”. Mereka berkata lagi: “Dan fulanah melaksanakan sholat wajib, bersedekah dengan sepotong keju, dan dia tidak menggangu seorang pun. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Dia termasuk penduduk surga”. [ HR. Bukhari, lihat adabul mufrod ]

Ketahuilah wahai saudaraku ! Mereka itu adalah salah satu contoh diantara orang-orang yang merugi pada hari kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah; Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: Tahukah kalian orang yang bangkrut ? Para sahabat menjawab: ” Orang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta benda.” Beliau bersabda: ” Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalatnya, puasanya dan zakatnya. Akan tetapi ia suka mencaci maki, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, serta memukul orang lain. Kemudian pahalanya diberikan kepada orang yang dianiaya. Jika kebaikannya sudah habis sedangkan kesalahan-kesalahannya belum terbayar, maka diambilah kejelekan-kejelekannya orang yang pernah mendzolimi, kemudian dibebankan kepadanya, setelah itu ia dilemparkan kedalam neraka!!!” [ HR Muslim ]

Siapa Tetangga Kita ?

Berkata Syaikh Muhamad bin Shaleh al-Utsaimin : ” Tetangga ada tiga macam :

1. Tetangga yang muslim dan mempunyai hubungan kerabat dengannya : Maka dia mempunyai tiga hak yaitu : hak tetangga, hak seorang muslim, dan hak kekerabatan.

2. Tetangga yang muslim kerabat dekat, maka dia mempunyai dua hak,  yaitu: hak tetangga dan hak seorang muslim.

3. Tetangga yang kafir, maka dia hanya mempunya satu hak, yaitu: hak tetangga.

Dalil Tentang Adab Kepada Tetangga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رض أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صل قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ آخِر فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “…Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir ( hari kiamat), maka hendaklah ia memuliakan tetangganya…”. [ HR. Bukhari dan Muslim ]

Berkata Syaikh Utsaimin : ” Yaitu tetangga disekitar rumahmu, dan tetangga yang lebih dekat denganmu, maka haknya lebih besar.”

Dan bentuk penghormatan yang mutlaq ini di kembalikan kepada kebiasaan, maka terkadang penghormatan kepada tetangga itu dengan engkau pergi kepadanya, mengucapkan salam, dan duduk disisinya. Dan terkadang dengan engkau mengundangnya ke rumah dan memuliakannya, dan terkadang dengan menghadiahkan sesuatu kepadanya, maka masalah ini kembali kepada “kebiasaan”.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

لَيْسَ الْمُؤْمِنَ يَشْبِعُ وَجَارَهُ جَائِعُ

” Tidaklah seorang disebut mukmin yang sempurna dia ini kenyang, sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” [ HR. Bukhari ]

Maksudnya ialah : ” Dia mengetahui tetangganya yang lapar, kesakitan, dan sejenisnya, sedang ia membiarkannya.

Didalam hadits ini terdapat dalil yang begitu jelas tentang diharamkannya bagi seseorang tetangga yang kaya membiarkan tetangganya dalam keadaan kelaparan. ” Maka wahai kaum Muslimin ! seandainya setiap tetangga selalu memperhatikan keadaan tetangganya, maka apakah tersisa seorang muslim yang kelaparan? bagaimana seandainya setiap orang mengeluarkan zakat malnya, maka apakah masih tersisa seorang yang fakir ditengah suatu masyarakat?

عَنْ نَافِع بن عَبْدِ الْحَارِث، أَنَّ النَّبِيَ صل : مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: المَكَنُ الْوَاسِع وَ الْجَارُ الصَّالِح

” Dari Nafi’ bin Abdul Harits dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Diantara sesuatu yang menggembirakan seorang muslim adalah : Tempat tinggal yang luas dan tetangga yang sholeh ( baik )”. [ HR.Bukhari ]

Maksud dari tetangga yang sholeh : “Yaitu karena dia membantu tetangganya yang lain untuk berbuat ketaatan dan memerintahkan yang ma’ruf dan melarang kemungkaran, hal ini menyerupai gambaran dalam firman Allah surat Al-Ashr ayat 3 ( Dan orang-orang yang saling menasehati didalam kebenaran dan didalam kesabaran ) dan juga tidak menyibukkan dengan dunia, musibah-musibahnya juga fitnahnya dari kehidupan akhirat.

Lihatlah! Bagaimana beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan kepada kita agar menjadi seorang tetangga yang baik, agar menjadi kesenangan tersendiri bagi saudaranya yang muslim.

Tetangga Prioritas

Tetangga yang lebih dekat pintunya lebih diutamakan, sebagaimana hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha :

عَنْ عَائِشَةَ – رضي الله عنها- قَالَتْ : قَلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أَهْدِي؟ قَالَ : إِلي أَقْرَبِهِمَا مِنْكَ بَابًا. 

” Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dia berkata: “Saya berkata” : Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, saya memiliki dua tetangga, maka manakah diantara keduanya yang saya berikan hadiah ( lebih diutamakan )? Beliau menjawab : “Kepada yang lebih dekat pintunya dari rumahmu”. [ HR.Bukhari ].

Ummul mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha sangat bersungguh-sungguh didalam memenuhi hak tetangga, teliti terhadap yang lebih utama untuk dipergauli dengan baik dan diberi hadiah. Dari perbuatan ‘Aisyah ini dapat kita ambil faedah : Didahulukannya ilmu sebelum beramal karena pertanyaan yang ditujukan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam itu adalah Ilmu. Dan pemberian hadiah adalah amal. Hikmahnya adalah : karena tetangga yang dekat tidak meremehkan pemberian tetangganya walaupun sedikit.

” Dari Abu Hurairah, Ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Wahai kaum muslimah, jangan sekali-kali memandang remeh pemberian seorang tetangga sekalipun hanya kikil kambing.” [ Muttafaqun ‘Alaih ] 

Yaitu Janganlah engkau meremehkan walaupun engkau memberikan sesuatu yang terkadang hal itu tidak banyak manfaatnya. Maka dengan hal ini akan sama antara yang kaya dan yang miskin, dan larangan ini terkhususkan bagi wanita karena mereka adalah sumber kecintaan dan kebencian, karena mereka lebih cepat terpengaruh atau terkesan didalam masalah itu ( kecintaan dan kebencian ).

Berkorban untuk Tetangga karena Allah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرِةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى قَالَ : لَايَمْنَعَ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِي جِدَارِهِ. ثُمَّ يَقُوْلُ أَبُوْ هُرَيْرَة : مَالِيْ أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِيْن ! وَاللهِ لَأَمْرِيَنَّ بِهَا بَيْنَ اَكْتَافِكُمْ

” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Janganlah seorang tetangga melarang tetangganya yang akan menyandarkan kayunya pada dindingnya”. Kemudian Abi Hurairoh berkata: “Kenapa kalian masih menyepelekan tuntutan ini ?! Demi Allah SWT, saya akan menjadikan ajaran Rasulallah ini diatas bahu-bahu kalian.” [ HR. Bukhari dan Muslim ]. 

Faidah yang dapat dari hadits diatas: Tidak bolehnya melarang tetangga yang hendak menyandarkan kayu kedinding tetangganya, selama hal itu tidak membahayakan pemilik dinding dan yang menyandarkan kayu tersebut memiliki hajat. Seperti tidak mungkin baginya untuk membuat atap / berteduh kecuali harus menyandarkan sesuatu ketembok tetangganya. Dan keperluan untuk tetangga ini, hukumnya wajib menurut pendapat yang paling shahih. Oleh karena itu hendaknya kita memenuhi hak-hak tetangga kita, meskipun dia bukan seorang muslim ( kafir ). Sebagaimana hadits Abdullah bin Amr, Bahwasanya beliau menyembelih seekor kambing, maka dia berkata kepada pembantunya ( budaknya ): “Apakah engkau telah menghadiahkanya untuk tetangga kita yang yahudi? 3x. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: ” Malaikat Jibril tidak henti-hentinya berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku beranggapan bahwa tetanggapun berhak mendapatkan warisan tetangganya”. [ HR. Bukhari, Adu Dawud dan Tirmidzi ]

Dan hal ini memiliki pengaruh dan manfaat yang besar di dalam berdakwah kepada Allah SWT. Akan tetapi disaratkan padanya yaitu hendaknya aman dari fitnah. [Syarh Shahih Adabu Mufrod]

Setelah kita mengetahui beberapa adab kepada tetangga, maka sekarang saatnya bagi kita untuk mengamalkanya, semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk bermuamalah kepada tetangga dengan akhlaq yang baik dan menghiasi kita dengan perbuatan-perbuatan yang diridhoi oleh Allah ta’ala. Amin. Wallahu a’lam bis showab.

Abu Muhamad

Maroji’ :

1-Fathul Baary

2-Syarh Riyadzus Sholihin Ibnu Utsimin

3-Bahjatun Nadzirin

4-Syarh shohih Adabul Mufrod

5-Taisirul ‘Allam syarh ‘Umdatul Akhkam

==============

NB : Demi menjaga kehormatan saudara kita, mohon di sertakan sumber dan linknya, Jazakumullahu Khairan

Daftar Whatsapp Nasehat Seindah Sunnah

Nama # Umur # L/P # Alamat kirim ke +62 852 1119 3332 ( Registrasi via Whatsapp langsung bukan via Sms )

Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah

Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Android berikut ini 

Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini


Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY