Pentingnya Mengagungkan Sunnah

0
1097

Sesungguhnya Allah  telah mengutus Rasul-Nya kepada manusia untuk menjelaskan kepada mereka tentang apa-apa yang turun kepada mereka, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus, serta mewajibkan kepada mereka untuk mentaatinya dan mencintainya, sebagaimana firman Allah ta’ala :

يَأَََََََََََََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللهَ وَ أَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَ أُولِيْ اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

“ Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan para pemimpin diantara kalian”. ( QS. An-Nisa’ : 59 )

Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

لَا يُؤْمِنُ أََََََََََََََََََََحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَ وَلَدِهِ وَ النَّاِس أَجْمَعِيْنَ

“ Tidaklah sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan manusia seluruhnya”. ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Dan para sahabat adalah orang-orang yang senantiasa teguh di atas sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam sehingga mereka lebih mendahulukan perkataan beliau daripada perkataan orang lain, siapapun orangnya.

Berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq :” Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah kecuali aku melakukannya, dan sungguh aku sangat takut tergelincir dari sesuatu yang beliau perintahkan, jikalau aku meninggalkannya.

Pengertian Sunnah

Yang dimaksud sunnah disini adalah bukan persamaan dari mustahab ( Sunnah ), dan juga bukan lawan dari makruh, dan begitupula bukan lawan dari Al-qur’an.

Sebagaimana seseorang mengatakan dalil dari kitab dan sunnah. Akan tetapi yang dimaksudkan dengan sunnah disini adalah, cara dan petunjuk Nabi. Dan itu umum, mencakup hal-hal yang wajib dan mustahab. Dan mencakup pula terhadap aqidah, ibadah, pergaulan, dan akhlak

Berkata Ibnu Rajab Al Hambali :” Sunnah adalah cara yang ditempuh yang mencakup terhadap berpegang teguh kepada apa-apa yang Rasulullah berada diatasnya dan para Khulafa’ Ar-Rasyidun. Yang berupa keyakinan-keyakinan, amalan–amalan, dan perkataan-perkataan.

Dan inilah sunnah yang sempurna, oleh karena itu para salaf terdahulu mereka tidak mengucapkan nama sunnah, kecuali atas apa-apa yang mencakup semua itu. Dan makna tersebut diriwayatkan juga dari Hasan, Auza’i dan Fudhail bin ‘Iyyad.

Diantara Dalil –Dalil Yang Menunjukkan Tentang Anjuran Dan Pentingnya Mengagungkan Sunnah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam

1.  Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلُ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ

“ Sesungguhnya telah terdapat pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu ( Yaitu ),  bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan kedatangan hari kiamat.” ( QS. Al-Ahzab: 21 )

2.  Allah  berfirman:

قُلْ أَطِيْعُوْا اللهَ وَ أَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَ إِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْا وَ مَا عَلَى الرَّسُوْلِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِيْنَ

“ Katakanlah, Taatlah kalian kepada Allah dan Rasulullah. Dan jika kamu berpaling,  maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya. Dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu,  dan jika kamu taat kepadanya,  niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan ( Rahmat Allah ).” ( QS. An-Nur: 54 )

3. Hadits ‘Irbad bin Sariyah berkata: Rasulullah menasehati kami dengan satu nasehat. Maka menjadi takutlah hati-hati kami  dan meneteslah air mata kami, maka kami berkata: Wahai Rasulullah seakan-akan nasehat ini merupakan nasehat perpisahan, maka nasehatilah kami. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “ Aku wasiati kalian untuk bertaqwa kepada Allah,  serta mendengar dan taat, walaupun seorang hamba yang menjadi pemimpin atas kalian. Maka sesungguhnya, barang siapa diantara kalian yang masih hidup, maka dia akan melihat banyak perselisihan. Oleh karena itu, wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin Al-Mahdiyyin setelahku. Maka gigitlah sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham, dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru, maka sesungguhnya bid’ah adalah kesesatan.”

Sikap Salafush Shalih Terhadap Orang-Orang Yang Menentang Sunnah Rasulullah

Sikap salafush shalih terhadap orang yang menentang sunnah Rasulullah sangatlah keras. Dan ini sebagaimana yang terjadi pada salah seorang sahabat. Salim bin Abdillah bercerita : ” Bahwasannya Abdullah bin Umar berkata: Saya telah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “ Janganlah kalian melarang istri-istri kalian dari masjid apabila mereka meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid.” Maka berkata Bilal bin Abdillah : Demi Allah kami akan melarangnya, lantas Abdullah pun melarangnya dan mencelanya dengan celaan yang yang jelek yang aku tidak pernah mendengar celaan seperti itu, dan dia berkata: Aku membawa berita dari Rasulullah. Dan kamu berkata: Demi Allah kami akan melarang mereka.

Maka hal ini menunjukkan atas larangan untuk menentang sunnah, atau berpaling darinya. Karena sunnah itu datangnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, yang mana apabila seseorang mengingkari terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah, maka dia kafir.

Hukum Mencela Atau Menghina Sunnah Rasulullah

Sesungguhnya menghina agama adalah kafir baik dengan bercanda, bermain-main atau sungguh-sungguh. Maka itu merupakan kekafiran yang mengeluarkan dari agama.

Berkata Ibnu Qudamah : ” Barang siapa yang mencela Allah maka dia kafir, baik dengan bercanda maupun sungguh-sungguh. Dan begitu pula orang-orang yang menghina Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-rasul-Nya maupun kitab-kitabnya.

Dan berkata Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab di dalam risalah beliau yang berjudul Nawaqidhul Islam ( Pembatal-pembatal Islam ) : ” Dan barang siapa yang membenci sesuatu dari apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah walaupun dia mengamalkannya, maka dia kafir. Dan barang siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasulullah, atau pahala-pahala Allah, ataupun hukuman-Nya, maka dia kafir.

Dan dalilnya fiman Allah :

قُلْ أَبِيْ اللهِ وَ آيَاتِهِ وَ رَسُوْلِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ[65] لا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيْمَانَكُمْ

“ Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu menghina, tidak perlu kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman. ( QS. At-Taubah: 65-66 )

Serta perkataan Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab : Para ulama telah bersepakat atas kekafiran orang yang melakukan sesuatu dari hal itu, dan barang siapa yang menghina Allah, kitab-Nya atau Rasul-Nya, maupun agamanya, maka dia kafir. Walaupun dia main-main yang tidak bermaksud untuk mencelanya secara benar-benar.

Maka oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa beristiqomah di atas sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, karena dengan sunnah beliaulah kita bisa menempuh jalan yang lurus. Dan marilah kita memohon kepada Allah agar kita dijadikan sebagai orang-orang yang diberi syafa’at oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam di akhirat nanti. Amiin.

Referensi : Ta’dzim AsSunnah karya Syaikh Abdul Qoyyum As-Suhaibani

Nur Abdur Rahman

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.