Ingin Ilmu Antum Bermanfaat Untuk Orang Lain? Amalkan Ilmu Itu

0
117

Ingin Ilmu Antum Bermanfaat Untuk Orang Lain? Amalkan Ilmu Itu

Ibnul Jauzi rahimahullah (w 597 H) mengatakan:

“Aku banyak bertemu para syeikh, keadaan mereka berbeda-beda, keilmuan mereka juga bertingkat-tingkat. Namun yang paling bermanfaat bagiku dalam bergaul dengannya adalah orang yang mengamalkan ilmunya, meskipun ada yang lebih alim dari dia.

Aku juga telah bertemu para ulama hadits, mereka punya hapalan dan keilmuan, namun mereka bermudah-mudahan dalam ghibah yang mereka legalkan dengan label ‘jarh wat ta’dil’. Mereka juga mengambil upah dari bacaan hadits, dan segera menjawab pertanyaan agar terjaga namanya, meski dia jatuh dalam kesalahan.

Aku juga telah bertemu dengan Abdul Wahhab Al Anmathi, dia dulu berjalan di atas ‘aturan’ salaf, ghibah tidak pernah terdengar di majlisnya, tidak pula mengambil upah dari kegiatan memperdengarkan haditsnya. Dan aku pernah membaca hadits roqo’iq di depannya, maka diapun menangis, dan menangis lama, sehingga tangisan itu merasuk ke dalam hatiku -padahal saat itu aku masih kecil-, dan membangun pilar-pilar akhlak (dalam jiwaku). Dia memang serupa dengan ciri-cirinya para syeikh yang sifat-sifat mereka kami dengar dari nukilan (kitab).

Aku juga telah bertemu dengan Abu Manshur Al Jawaliki. Dia banyak diam, sangat berhati-hati dalam ucapannya, sangat kuat ilmunya, dan muhaqqiq. Namun begitu, kadang ketika ditanya masalah yang mudah, yang sebagian muridnya akan segera menjawabnya, dia berhenti menjawabnya hingga yakin dengan jawabannya. Dia itu banyak puasa dan pendiam.

Manfaat yang kudapatkan dengan melihat dua orang ini -Al Anmathi dan Al Jawaliqi-, lebih banyak dari manfaat yang kuambil dari selain dua orang ini. Sehingga dari keadaan ini aku paham, bahwa petunjuk dengan tindakan lebih kuat pengaruhnya daripada petunjuk dengan ucapan.

Aku juga melihat para syeikh yang memiliki banyak waktu berkholwat (dengan teman-temannya) untuk nyantai dan canda. Akibatnya mereka jauh dari hati manusia, dan keteledoran mereka itu mencerai-beraikan kembali ilmu yang sudah mereka kumpulkan, sehingga ketika hidupnya, mereka kurang bermanfaat, dan ketika meninggalnya mereka dilalaikan, dan hampir tidak ada seorang pun yang tertarik dengan kitab-kitab mereka.

Maka hendaklah kalian menjaga ilmu dengan amal, karena ini merupakan pokok yang paling mendasar. Sungguh orang yang paling kasihan adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam ilmu yang tidak diamalkan, hingga hilang darinya kenikmatan dunia dan kebaikan akhirat, lalu dia datang merugi (di akhirat), padahal dia harus menanggung hujjah yang kuat terhadapnya”. [Shoidul Khothir 108-109].

Subhanallah. Ini di zaman beliau, bagaimana jika beliau hidup di zaman ini ?! Ghibah dengan label ‘tahdzir dan nasehat’ di mana-mana. Banyak orang berilmu, tapi tidak tampak sama sekali pada akhlaknya.

Bahkan, tidak hanya yang punya ilmu, yang modal nongol di TV pun, berlomba-lomba untuk membicarakan hukum Allah. Seandainya mereka merenungi bahwa berbicara hukum syariat dalam sebuah masalah, itu sama saja mengabarkan hukum hal tersebut atas nama allah, tentunya mereka akan diam seribu bahasa.

Semoga Allah memperbaiki keadaan umat ini, dan menuntun mereka semakin dekat kepada syariat-Nya

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.