Buku “Kehidupan Setelah Mati” Membongkar Akidah Kaum Syiah di Indonesia

0
1227

Saya cukup tertarik ketika pagi itu browsing di internet, Saya dapatkan sebuah artikel mengenai syiah, Maka kali ini kita akan mengulas kesesatan Akidah Syiah lewat buku-buku berbahasa Indonesia terbitan mereka.

Buku yang akan kita bongkar adalah berjudul “Kehidupan Setelah Mati” karya Allamah Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’i.

Buku yang disadur dari kitab Tafsir Al-Mizan ini merupakan buku pokok agama Syiah baik dalam di dalam Indonesia sendiri maupun di luar Indonesia. Ini sebagaimana dedengkot Syiah Indonesia kang Jalal mengomentari buku ini sebagai berikut;

“Tafsir Al-Mizan adalah tafsir mutakhir yang menggunakan berbagai pendekatan: Hadits, bahasa, filsafat, dan ilmu-ilmu Islam lainnya. Dari tafsir itu, para muridnya mengambil topik-topik tertentu dan menjadikannya tafsir maudhu’i (Pokok ). Pembahasannya tentang maut di dalam al-Quran sangat mempesona dan menampilkan banyak wawasan baru, sebagaimana yang akan Anda baca dalam buku ini.” ungkap kang Jalaludin Rahmat.

Berikut beberapa penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam buku tersebut:

1. Dijelaskan bahwa sahabat Ali bin Abu Thalib membagi manusia menjadi dua bagian, penghuni Neraka dan penghuni Surga. Syiah adalah penghuni Surga, sedang selainnya akan dimasukan ke dalam Neraka.

Ini adalah di antara kesesatan Aqidah Syiah yang ditanamkan kepada para pengikutnya. Selain Syiah akan mendapatkan neraka, meski pun mereka beriman dengan Rukun Iman yang lain. Kebanyakan warga Syiah di Indonesia beralasan bahwa Aqidah semacam itu bukanlah Syiah yang mereka yakini, akan tetapi hanya dimiliki oleh Syiah luar negeri. Pernyataan mereka ini terbantahkan dengan fakta bahwa mereka mencetak buku yang mengandung ajaran demikian dan menyebarkannya kepada masyarakat Sunni.

2. Buku ini menjelaskan bahwa syarat menjadi mukmin sejati harus mengetahui Imam Syiah, sedangkan jika ada orang yang tidak mengikuti Imam Syiah maka ia bukanlah seorang mukmin. Bahkan, pengetahuan tentang Imam Syiah ini menjadi syarat diterimanya amal. Jadi menurut keyakinan Syiah, selain orang yang beragama Syiah maka amalannya tidak akan diterima. Lihat halaman 79 dari buku tersebut.

3. Pada halaman 93, tertulis bahwa surga ada 8 pintu, yang 5 pintu adalah bagi para penganut Syiah.

Coba antum cari di kitab manapun kecuali kitab syiah, Pernahkan Rasulullah bersabda demikian? Bukankah sekte Syiah ini ada setelah sepeninggal Nabi? Tidak logis rasanya, jika Rasulullah yang telah wafat besabda yang demikian itu!

4. Tafsir sesat ala Syiah. Arti kata “kebaikan” dalam ayat Asyura ayat 23 adalah wilayah dalam ajaran Syiah. Ini adalah salah satu di antara tafsiran ngawur ala Syiah. Mereka berdalil dengan ayat yang benar tapi dengan tafsiran sesuai dengan kehendak ajarannya sendiri.

Pernah juga saya ( Admin ) berdialog dengan Istri Jalaludin Rahmat yaitu Emelia Renita Rz, tentang adakah ayat yang menyatakan akan wajibnya Imamah yang terdapat di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, ia dengan santainya menjawab bahwa imamah telah di sebutkan di dalam Surat Al Isra’ ayat 71, Padahal jika kita cermati ayat tersebut bermakna ” Setiap manusia di akhirat kelak akan di panggil dengan membawa Imam mereka ( Maksudnya Adalah Catatan amalan baik dan buruk ) BUKAN di panggil dengan Ke Imamahan mereka

Tafsir ayat tersebut saya rujuk dari beberapa kitab tafsir ulama kenamaan seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir At Thabary maupun kitab Tafsir lainnya, kebanyakan para ulama menafsirkan dengan catatan amalan seorang manusia baik dan buruknya

Setelah saya jelaskan kepada istri jalal tentang tafsir tersebut, ia malah mengatakan ” Oh gitu ya, Saya tidak tahu tuh hehehehe…

5. Pada halaman 144, tertulis bahwa seorang hamba kakikatnyanya tidak akan beranjak sampai dia ditanya 4 hal. Empat terakhir dari pertanyaan tersebut adalah seputar ke-Syiahannya.6. Pada halaman 149, disebutkan bahwa timbangan yang adil dalam ayat Al Anbiya’ 47 adalah para nabi dan para Washinya (Para Imam Syiah)

7. Pada hal 173, disebutkan bahwa orang mukmin dalam ayat At Taubah 105 adalah Para Imam. Tafsir ini sejalan dengan hawa nafsu mereka. Dalam ayat lain, yang bisa menjadi saksi hanya para Imam mereka, yang lain tidak. Amat kejilah keyakinan mereka. Nauzubillah min dzalik.

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.