Mengapa Kita Wajib Mencintai Ummahâtul Mukminin ?

0
1024

Yang dimaksud dengan Ummahâtul Mukminin adalah para istri Nabi Shalallahu alaihi wa salam yang terdari dari :

  • Khadîjah binti Khuwailid
  • Saudah binti Zam’ah b
  • Aisyah binti Abu Bakr
  • Hafshah binti Umar bin Khattab
  • Zainab binti Khuzaimah
  • Ummu Salamah
  • Zainab binti Jahsyi
  • Juwairiyyah bin al-Hârits
  • Ummu Habîbah
  • Shafiyah bintu Huyai
  • Maimunah bintu al-Hârits

Mereka adalah Ummahâtul Mukminin yang wajib bagi kita untuk muliakan, mencintai dan mengagungkan mereka. Karena beberapa sebab, diantaranya :

Mereka masuk dalam keumuman kemuliaan para shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam , artinya mereka ini juga termasuk Shahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam .

Kita tahu bahwa kedudukan dan kemuliaan para Shahabat sangat besar, berdasarkan nash-nash yang bersumber dari al-Qur’ân, kalamullah atau pun dari hadits-hadits yang shahih yang dibawakan riwayatnya oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan para imam hadits lainnya. Diantaranya adalah firman Allâh ta’ala :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

” Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allâh dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. ( QS. At-Taubah/9:100 )

Ayat yang mulia adalah ayat yang sangat agung yang menjelaskan tentang keutamaan dan kemuliaan para Shahabat Ridhwanullah ‘alaihim jami’an karena mereka semua telah mendapat ridha Allâh ta’ala .

Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang keridhaan Allâh ta’ala terhadap para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an dan istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam masuk dalam keumuman ayat yang mulia ini.

Kemudian, Allâh ta’ala dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an menjelaskan tentang keutamaan dan kemulian para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an . Dalam surat al-Hasyr ayat ke-10, Allâh ta’ala telah memerintahkan orang-orang yang datang setelah generasi para Shahabat untuk mendo’akan para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an .

Allâh ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ 

” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka ( Muhajirin dan Anshar ), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” ( QS. al-Hasyr/59 :10 )

Dalam ayat ini, dengan sangat jelas, Allâh ta’ala memerintahkan kaum Mukminin yang hidup setelah generasi para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an untuk mendo’akan para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an bukan mencaci maki mereka. Oleh karena itu, Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan kepada keponakannya yaitu Urwah bin Zubeir Radhiyallahu ‘anhu . Urwah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan kepadaku :

يَا ابْنَ أُخْتِي، أُمِرُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِأَصْحَابِ النَّبِيِّ  فَسَبُّوهُمْ

” Wahai anak saudaraku ! Mereka diperintahkan untuk memohonkan ampun kepada Allâh ta’ala untuk para Shahabat ( Nabi Shalallahu ‘alihi wa salam ) namun mereka mencela dan mencaci maki mereka. ( HR. Imam Muslim, no. 3022 ) 

Perkataan Aisyah Radhiyallahu ‘anha menafsirkan ayat yang mulia di atas , karena Allah ta’ala berfirman, yang artinya, : ” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka ( Muhajirin dan Anshar ), mereka berdoa: ” Ya Rabb kami, berilah ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” ( QS. al-Hasyr/59:10 ) 

Kemudian dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri, no. 3673 dan Imam Muslim, no. 2540, Rasûlullâh Shalallahu ‘alihi wa salam bersabda :

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

” Jangalah kalian mencaci maki para Shahabatku ! Seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud niscaya itu tidak bisa mencapai satu mud atau setengah mud dari derajat salah diantara mereka.

Satu mud itu seukuran dua telapak tangan orang dewasa.

Maksudnya, yang Allâh ta’ala perintahkan kepada kaum Muslimin yang hidup setelah para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an adalah beristighfar memohonkan ampunan kepada Allâh ta’ala untuk para Shahabat, karena para Shahabat telah lebih dahulu beriman.

Lanjutan do’a itu adalah :

 وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ  

” Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. ( QS. al-Hasyr/59:10 )

Sesama Mukmin dilarang hasad ( iri atau dengki ), apalagi kepada kaum Mukminin yang lebih mulia, seperti para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an . Berdasarkan ini, maka orang yang mencaci maki para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an setelah mereka diperintahkan untuk memohonkan ampun kepada Allâh ta’ala untuk pada Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an , pada hakikatnya mereka telah menentang dan melawan firman Allâh ta’ala dan Rasul-Nya. Olah karena itu, Aisyah Radhiyallahu ‘anha  mengucapkan perkataannya di atas, ” Mereka diperintahkan untuk memohonkan ampun kepada Allâh ta’ala untuk para Shahabat ( Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam ) namun mereka mencela dan mencaci maki mereka.”

Jadi, kita wajib mencintai dan memuliakan Ummahâtul Mukminin, karena secara umum mereka masuk dalam keumuman para Shahabat Ridwanullah ‘alaihim jami’an .

Mereka sebagai Ummahâtul Mukminin. Ini adalah sebuah kedudukan yang sangat tinggi, sebagaimana firman Allâh ta’ala :

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ 

” Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. ( QS. Al-Ahzâb/33:6 )

Maksudnya, kehormatan para istri Nabi itu dihadapan kaum Mukminin sangat tinggi sama dengan kedudukan seorang ibu dihadapan anak-anak mereka.

Mereka adalah ibu-ibu kaum Muslimin, meski bukan ibu secara nasab, karena Allâh ta’ala  telah menegaskan bahwa istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah ibu-ibu kaum Muslimin. Karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah orang yang paling berhak dari diri kita sendiri. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam lebih dekat dari diri-diri mereka, baik dalam urusan agama maupun dalam urusan dunia. Demikian juga kehormatan para istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam seperti kehormatan ibu-ibu mereka. Karena itu, para istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam tidak boleh dinikahi sesudah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam wafat, sebagaimana ditegaskan oleh dalam firman-Nya:

 ۖ  وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَاللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَاللَّهِ عَظِيمًا 

” Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasûlullâh dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allâh ( QS. Al-Ahzâb/33:53 )

Ini kehormatan para istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam yang merupakan Ummahâtul Mukminin, tidak boleh dinikahi jandanya berdasarkan firman Allâh ta’ala di atas

Mereka termasuk ahlul bait, berdasarkan firman Allâh ta’ala :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِالْأُولَىٰ ۖوَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا 

” Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu [ Kecuali jika mereka mempunyai kebutuhan diluar rumah. Dalam hadits dijelaskan bahwa mereka diperbolehkan keluar rumah jika memiliki kebutuhan di luar.] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allâh dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allâh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. ( QS. Al-Ahzâb/33:33 )

Ayat yang mulia ini merupakan dalil yang sangat tegas yang menjalaskan bahwa para istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah ahlul bait, karena mereka yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat yang mulia ini, mulai dari ayat ke-28 sampai ayat ke-34. Pembicaraan Allâh ta’ala ini diarahkan kepada semua istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam. Ini menunjukkan bahwa para istri Nabi itu adalah ahlul bait. Oleh karena itu, Al-hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah saat menafsirkan ayat di atas, beliau Rahimahullahu mengatakan bahwa nash-nash ini menunjukkan bahwa para istri Nabi termasuk ahlul bait, karena mereka menjadi sebabnya turunya ayat, sedangkan orang yang menjadi sebab turunya ayat, maka para Ulama sepakat bahwa dia masuk ke dalam ayat tersebut.

Kemudian Syaikh as-Sinqithi Rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya Adhwâ’ul Bayân, saat menafsirkan ayat ini juga menjelaskan bahwa istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah ahlul bait dan masuk dalam ayat yang mulia ini. Karena mereka menjadi sebabnya turunnya ayat, sedangkan orang yang menjadi sebab turunnya ayat, maka dia masuk ke dalam ayat tersebut.

Karena dalam ke-28, Allâh ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ 

Wahai Nabi, katakanlah kepada para istrimu …

Kemudian Allâh ta’ala lanjutkan firman-Nya tentang istri-istri Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam , sampai akhirnya Allâh ta’al berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرً

” Sesungguhnya Allâh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. ( QS. Al-Ahzâb/33:33 )

Kemudian pada ayat selanjutnya Allâh ta’ala berfirman:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا    

” Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allâh dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allâh adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. ( QS. Al-Ahzâb/33:34 )

Ini merupakan nash yang tegas yang menunjukkan bahwa mereka masuk ayat yang mulia ini dan mereka semua dalam ahlu bait Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam .

Kemudian Syaikh as-Syinqithi Rahimahullah ta’ala membawakan ayat lain tentang kisah Ibrahim sebagai syahid ( penguat ) :

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيد

” Para malaikat itu berkata, “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allâh? (Itu adalah) rahmat Allâh dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allâh Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” ( QS. Hûd/11:73 )

Pembicaraan ini diarahkan kepada istri Nabi Ibrâhîm – ‘Alaihi salam – dan dia dikatakan sebagai ahlu bait bagi Nabi Ibrahîm – ‘Alaihi salam – .

Dan dalam ayat-ayat di atas, para istri Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa salam – menjadi sebab turunnya ayat dan masuk dalam ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa para istri Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa salam – termasuk ahlul bait.

Kemudian Syaikh as-Sinqithi -Rahimahullah- mengatakan, “Adapun dalil tentang masuknya yang selain mereka ke dalam ayat tentang ahlul bait berdasarkan hadits-hadits Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa salam – .”

jadi yang masuk ke dalam ahlu bait Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa salam – , bisa berdasarkan nash al-Qur’an seperti para istri Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa salam – atau berdasarkan hadits shahih seperti ahlu bait lain selain para istri Nabi -Shalallahu ‘alaihi wa salam – .

Ini menunjukkan kemulian Ummahâtul Mukminin.

Ummahâtul Mukminin ini ketika datang perintah Allâh k kepada Nabi n untuk mengatakan kepada para istri Beliau n agar memberikan pilihan antara memilih kehidupan dunia dan segala perhiasannya ataukah memilih Allâh dan rasul-Nya dan negeri akhirat? Maka seluruh mereka memilih Allâh dan Rasul-Nya dan negeri akhirat. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang ikhlas yang berjalan di muka bumi ini, sebagai pendamping-pendamping setia Nabi n di dunia dan pendamping di akhirat. Allâh k berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

” Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (kesenangan) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allâh dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allâh telah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar. ( QS. Al-Ahzâb/33:28-29 )

Dalam ayat ini, Allâh ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam untuk memberikan pilihan kepada para istri Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai ujian bagi mereka. Sebenarnya, apa yang mereka kehendaki ? Dunia dan perhiasannya ataukah Allâh dan Rasul-Nya serta negeri akhirat? Ini hal yang sangat menarik dan permasalahan ini dijelaskan dengan lebih jelas dalam hadits. Imam al-Bukhari Rahimahullah ta’ala meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahîhnya 4785. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menceritakan,  bahwasanya Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam datang menemuinya ketika Allâh ta’ala memerintahkan agar memberikan pilihan kepada para istri Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam , lalu Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam memulai pemberian pilihan itu dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha  .

Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمْرًا فَلَا عَلَيْكِ أَنْ لَا تَسْتَعْجِلِي حَتَّى تَسْتَأْمِرِي أَبَوَيْكِ

” Sesungguhnya aku akan menerangkan atau mengatakan kepadamu sesuatu, maka janganlah kamu terburu-buru memutuskannya sampai kamu bermusyawarah dulu dengan kedua orang tuamu.

( Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan ), ‘ Padahal Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam sudah tahu bahwa kedua orang tuaku tidak pernah menyuruhku untuk berpisah atau bercerai dengannya.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha  melanjutkan pembicaraannya, ” Kemudian Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya Allâh ta’ala berfirman (yang artinya), ” Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu: ” Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah ( Kesenangan ) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki ( keredhaan ) Allâh dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allâh menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar. ( QS. Al-Ahzab/33:28-29 )

Setelah itu, aku mengatakan kepada Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam , “Dibagian yang mana dari permasalahan ini yang perlu saya musyawarahkan dengan kedua orang tuaku. Sesungguhnya aku menginginkan Allâh ta’ala , Rasulnya dan negeri akhirat?”

Kemudian istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam yang lain pun seperti itu, sebagaimana dalam riwayat yang lain dikatakan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha , “Kemudian para istri Nabi yang lain pun mengatakan atau melakukan seperti yang aku katakana atau aku lakukan.

Ini merupakan bukti yang sangat kongkrit bahwa istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam telah dipersaksikan keimanan mereka oleh Allâh ta’ala kemudian juga oleh Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam bahwa mereka hanya menginginkan Allâh ta’ala, Rasulnya dan negeri Akhiart.

Kemudian Imam al-Bukhâri meriwayatkan lagi hadits dengan no.  5262 dan 5263 dengan ringkas. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan :

خَيَّرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاخْتَرْنَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

” Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam memberikan pilihan kepada kami, maka kami ( istri-istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam ) pun memilih Allâh ta’ala dan Rasul-Nya.

Itulah diantara beberapa penyebab wajibnya kita mencintai dan memuliakan para istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Semoga naskah singkat ini bermanfaat bagi kita semua.

Di Tulis : Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat

Majalah As Sunnah Rublik Mabhats Tahun XVIII Edisi 3-4

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.