Kisah Nyata Istriku Selingkuh karena Kerja

0
2945

Share Kisah Nyata, Istriku Selingkuh Karena Kerja Di Luar Rumah

Saya asli sumatera, dapat istri orang jakarta, mengalami perceraian sekitar 1 tahun lalu, anak 4 ikut saya semua. 3 perempuan 1 laki.

Otomatis jadi repot, ngurus rumah tambah cari nafkah juga mana semua masih kecil – kecil yang besar kelas 2 SD yang kecil 3 tahun.

Sudah 1 tahun sampai sekarang masih sulit terima, kadang ada rasa kangen, karena memang tidak niat mau cerai, gak terbayang dan terpikirkan soal cerai

Kesalahan yang saya lakukan adalah:

1. Mengizinkan istri kerja

karena selama nikah memang saya suruh istri tugasnya jadi ibu rumah tangga saja, urus anak, tahun ke 8 akhirnya karena di minta terus, akhirnya terpaksa saya izinkan istri untuk kerja, karena menurut saya barangkali dia hanya bosan di rumah dan iri dengan teman – teman kuliah dia dulu yang sudah kerja semua di perusahaan – perusahaan.

Setelah 1 tahun kerja, timbullah masalah berdatangab, menurut kata orang ” tumbuh cinta karena terbiasa” di tempat kerja, mungkin istri saya biasa ketemu dan makan bareng habis kerja sama rekan nya, dan timbullah perselingkuhan.

Gelagat pun mulai berubah, yang tadi keibuan berubah jadi pemarah dan selalu melihat apa saja yang saya lakukan salah, apa yang saya beri kurang dan sebagaiannya

Akhirnya hal tersebut terbuka semuanya , Suatu hari saya dapat telpon dari petugas dan saya di suruh datang menjemput istri di situ, ternyata istri tertangkap razia gabungan di kamar hotel kelas melati sama pasangan selingkuhnya dan istri pasangan selingkuhnya juga di panggil.

Hancur sudah dan tiba-tiba terasa gelap, Saya ingat betul betapa hancur dan sakitnya hati saya, sedangkan di sebelah sana saya lihat juga istrinya pasangan selingkuh menangis tiada henti .

Walaupun istri sempat cium kaki dan sujud di kaki saya waktu itu untuk mohon maaf, tetaplah sulit untuk menerima dan memaafkannya

Setidaknya butuh 4 orang petugas polisi untuk mendekap dan menenangkan saya agar tidak melakukan kekerasan, karena jujur saat itu pikiran saya sudah gelap.

Tidak terbayang istriku bisa selingkuh, yah memang saya kalah tampan dan kalah tinggi, apalagi bertubuh atletis berotot seperti pasangan selingkuhnya. secara fisik saya kalah jauh karena saya tidak tampan, tidak tinggi, dan juga tidak atletis berotot. paling tidak saya bertanggung jawab soal keluarga dan saya juga pekerja keras, dan saya juga hapal Al – quran sejak lulus kuliah.

Sekalian saya berpesan untuk semua lelaki-lekaki tampan dan wanita-wanita cantik di luaran sana , ingatlah Allah sudah memberikan kelebihan fisik di atas rata-rata kepada kalian namun janganlah kalian gunakan kelebihan fisik tersebut untuk merusak dan menghancurkan rumah tangga seseorang, ingatlah yang kalian sakiti pada saat berselingkuh bukan 1 orang saja, tapi 1 keluarga, anak istri dan suami orang lain jadi korban semua.

Dan apabila ada istri atau suami seseorang yang tertarik kepadamu, menjauhlah dan ingatkan mereka soal anak dan suami / istri yang menunggunya di rumah, mudah-mudahan mereka sadar dan Allah ganti kebaikan yang kamu lakukan dengan pahala dan derajat yang tinggi.

Untuk meupakan hal tersebut, Butuh waktu untuk sembuh, walau sudah 1 tahun masih ada rasa sesak kalau teringat peristiwa tersebut, walau tidak seperti dulu. seorang sahabat mengatakan ” itu Allah baik sama kamu, kasih liat watak istri mu sebenarnya, penghianat pergi tidak usah kau tangisi ”

Bicara memang mudah kawan, tapi bila tidak mengalami dan merasakan sendiri tentu pasti tahu butuh waktu untuk menata kepingan hati yang hancur berantakan, walau pun berhasil tertata tidak akan seperti dulu kawan, ada bekas luka di sana yang kau bisa rasakan, ada duka di wajah ku yang kau tidak bisa hapus walau dengan lelucon dan tingkahmu yang kadang teramat konyol, dan ada getir di suaraku yang kau bisa dengar , dan tidakkah kau melihat kawan ? jalanku pun tidak lagi tegap seperti dulu.

Rumah yang di bangun dengan susah payah serasa tidak berarti lagi, terasa sepi, andai tidak ingat anak-anak tentu sudah lama rumah ini saya tinggalkan, terlalu banyak kenangan di rumah ini. ranjang pun terasa dingin, tidak ada lagi yang bisa kupeluk , tidak ada lagi yang bisa ku ajak berbagi cerita di kamar, berbagi beban dunia, dan tidak ada lagi kecupan menyambut pagi

Ah, andai bisa kuputar waktu, tentu tidak akan ku izinkan kerja istri ku dulu.

Andai cintaku dulu cuma melakukan kesalahan soal uang, tentu akan aku maaf kan dan bayar berapa pun kesalahan uang yang dia lakukan.

Entah apa yang Allah takdirkan untuk ku, andai saja aku bisa mengintip kitab yang sudah tertulis di Lauh Mahfuz, aku berdoa semoga di sana tertulis juga akhir yang baik, dan tertulis nama pengganti pasangan yang sudah Kau usir dari sisi ku.

Ah istriku, andai kau lebih bersyukur dengan apa yang ada, tentu tidak akan ada ide untuk bekerja di pikiranmu

Andai saja izin itu tidak ku berikan selamanya, tentu saat ini kau masih dalam pelukan ku.

Ah andai saja ketampanan semu itu tidak menggodamu, dan senyum manismu tidak membuat dia terpikat, tentu
semua ini tidak akan terjadi. entah lah siapa yang jadi iblis nya di sini, kamu atau dia.

Walaupun aku tahu kamu sangat menyesalinya, tentu saja berat untukku menerimamu kembali, bukankah Allah sudah berfirman :

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

” Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). ” ( An Nuur – 26 )

Entahlah, apa ini cobaan untukku, dan ujian buat istri ku dulu, yang ternyata dia tidak lulus.

Ah istri ku, andai saja kau bersabar, kalau sekedar ketampanan yang kau cari tentu aku juga bisa lebih tampan nanti ketika di surga dan kau akan tetap jadi bidadari ku di sana, ingatkah kau firman Allah :

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“ Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” ( QS. Luqmaan: 33 )

Yang pasti sudah ku sadari , ternyata kebahagiaan di dunia ini semu.

– kadang ada kebahagiaan di sisi materi, namun keharmonisan dan kebahagian rumah tangga di hilangkan.
– kadang rumah tangga harmonis, namun di sisi materi mereka kesusahan.
– materi cukup , rumah tangga dan keluarga harmonis, ujian penyakit kau timpakan Ya Allah.

Sungguh benar firman MU Ya Allah :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“ Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Al Hadid: 20)

Ah istri ku andai saja kau tidak bertemu lagi dengan teman-teman SMA mu dulu, tentu kau tidak akan bergabung di group BBM mereka, yang selalu membanggakan enak nya bekerja di perusahaan ini itu, dan tidak menuruti perkataan teman mu untuk bekerja juga.

Andai saja ku teruskan latihan hapalan al quran mu yang sudah 56 surah tentu kau tidak lupa dengan firman Allah :

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ

“ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116).

Sungguh mencari nafkah tiada henti telah melalaikan ku mendidik dan membimbingmu cinta.

ttd

Someone in West Java.

Ini kisah nyata yang saya alami, jadi di jamin tidak repost.

Sumber: Kaskus.co.id

Mengenai ucapan seandainya di atas, ada sedikit tambahan dari kami yaitu :

Diriwayatkan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل : لو أني فعلت لكان كذا وكذا، ولكن قل : قدر الله وما شاء فعل، فإن ” لو ” تفتح عمل الشيطان

“ Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’“, tetapi katakanlah : “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan syetan.”

Kandungan Hadits ini :

1.Larangan mengucapkan kata “andaikata” atau “seandainya” apabila mendapat suatu musibah atau kegagalan.

2. Alasannya, karena kata tersebut (seandainya/andaikata) akan membuka pintu perbuatan syetan.

3. Petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam [ketika menjumpai suatu kegagalan atau mendapat suatu musibah] supaya mengucapkan ucapan ucapan yang baik [dan bersabar serta mengimani bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah].

4. Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam mencari segala yang bermanfaat [untuk di dunia dan di akhirat] dengan senantiasa memohon pertolongan Allah.

5.  Hadits  di atas menunjukkan adanya larangan untuk mengucapkan kata “seandainya” atau “andaikata” dalam hal-hal yang telah ditakdirkan oleh Allah terjadi, dan ucapan demikian termasuk sifat-sifat orang munafik, juga menunjukkan bahwa konsekwensi iman ialah pasrah dan ridho kepada takdir Allah, serta rasa khawatir seseorang tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari takdir tersebut.

 

Artikel Ini Di Posting oleh Website Seindah Sunnah
_______________________
Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
_______________________
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654

Mohon konfirmasi setelahnya ke : Email : [email protected] atau Facebook Seindah Sunnah