Keutamaan Amar Ma’ruf Dan Nahi Munkar

0
1346

Diantara masalah yang sangat penting sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah ialah saling menasehati dan mengarahkan sesama kepada kebaikan. Serta saling berwasiat tentang kebenaran dan bersabar dalam perkara perkara yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah dan dapat menjauhkan diri dari rahmat Allah.

Allah telah menjelaskan dalam kitabnya yang mulia mengenai kedudukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Bahwasanya kedudukannya sangatlah mulia. Hingga dalam sebagian ayat Allah mendahulukan penyebutannya daripada iman. Padahal iman merupakan asas dan pangkal dari Islam. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

” Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ( QS. Ali Imran 110 )

Tidakkah kita mengetahui rahasia didahulukannya amar ma’ruf nahi mungkar dari masalah iman? Melainkan karena agung dan mulianya kewajiban ini dan kemaslahatan bagi umat. Terlebih untuk umat zaman sekarang ini, kebutuhan kaum muslimin. Mengingat maraknya kemaksiatan, kesyirikan dan kebid’ahan.

Kaum muslimin pada zaman Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam , para shahabat dan pada masa salafusshalih sangat mengagungkan dan mengutamakan kewajiban ini. Mereka menegakkannya dengan sebaik-baiknya. Untuk masa-masa akhir ini, hal itu sangatlah diperlukan dan ditingkatkan.

Allah k memerintahkan kewajiban ini dan memberi motivasi, bahkan penyebutannya didahulukan daripada iman, seperti disebutkan dalam ayat diatas. Allah memuji umat ini khususnya para shahabat, karena mereka menegakkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Begitu pula Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam memuji dengan sabdanya,

أَنْتُمْ توفون سَبْْعِيْنَ أُمَّةً أَنْْتُمْ خَيْرُهَا وَ أَكْرَمُهَا عِنْدَ اللهِ

” Kalian penutup dari 70 umat. Kalian terbaik dan yang paling mulia disisi Allah. ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim).

Dan Allah mencela serta melaknat orang-orang atau kaum yang meninggalkan kewajiban ini dan menyepelekannya. Sebagaimana firman Allah :

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِى إِسْرَاءِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ

” Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. ( QS Al-Maidah : 78 )

Kemudian Allah menjelaskan kemaksiatan yang mereka lakukan pada ayat selanjutnya,

كَانُوا لاَيَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

” Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat, Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. ( QS Al-Maidah : 79 )

Merupakan bahaya besar, jika kewajiban ini ditinggalkan. Di dalam ayat lain Allah ta’ala memuji sebagian ahli kitab yang menegakkan kewajiban ini. Allah berfirman,

لَيْسُوا سَوَآءً مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةُُ قَآئِمَةُُ يَتْلُونَ ءَايَاتِ اللهِ ءَانَآءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الأَخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُوْلاَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ . وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَن يُكْفَرُوهُ وَاللهُ عَلِيمُُ بِالْمُتَّقِينَ

” Mereka itu tidak sama; diantara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat), Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala)nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertaqwa. ( QS. Ali Imran : 113-115 )

Demikianlah Allah memuji sebagian ahli kitab yang melaksanakan kewajiban ini, sebagaimana Allah mencela kelompok lain yang meninggalkannya.

Hikmah apakah sehingga Allah mendahulukan kewajiban ini dari iman dan penegakan sholat aatupun menunaikan zakat ?

Allah berfirman :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلاَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمُُ

” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( QS At-Taubah : 71 ).

Dalam ayat ini Allah mendahulukan amar ma’ruf dan nahi munkar daripada perintah menegakka shalat. Padahal shalat tiang agama yang juga merupakan rukun paling utama setelah syahadat. Apakah hikmah dibalik itu ?

Tidak diragukan lagi karena kebutuhan mendesak dan darurat. Dengan terealisasikannya kewajiban ini, maka umat akan sejahtera. Kebaikan akan berlimpah. Segala kebaikan akan nampak dan semua bentuk kejahatan akan terkekang.

Adapun melalaikan kewajiban ini akan menimbulkan banyak kejahatan, terpecah belahnya umat, hati akan mengeras lalu mati. Segala bentuk kebaikan akan terkekang sebagaimana yang kita saksikan di sebagian besar belahan dunia.

Orang-orang yang melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar disebut ahlur rahmah.

Pada surat At-Taubah yang disebutkan di atas. Allah menjelaskan, bahwa orang-orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar , menegakkan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan rasul-Nya sebagai ahlur rahmah. Maka kita dapat mengetahui, bahwa rahmat Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan mentaati-Nya.

Pada ayat lain Allah l menyatakan, bahwa anugerah kebahagian hanya untuk orang-orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. ( QS Ali Imran : 104 ).

Kebahagian atau keberuntugan akan diperoleh orang-orang yang melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar karena Allah. Sedangkan orang-orang yang melaksanakan kewajiban ini karena tujuan-tujuan tertentu, maka mereka sebagai manusia yang paling hina dan akan memperoleh balasan yang sangat menghinakan. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih,

Pada hari kiamat dihadirkan seseorang yang kemudian dilempar ke dalam neraka. Kemudian isi perutnya (ususnya) keluar berantakan. Kemudian dia mengelilingi api neraka, sebagaimana keledai mengelilingi penggilingan. Kemudian para penghuni neraka mengerumuninya dan berkata, “Kenapa denganmu, hai fulan ? Bukankah engkau menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran ?” Kemudian dia menjawab, “Benar. Aku menyuruh kepada yang ma’ruf, tapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku mencegah dari kemungkaran sementara aku mengerjakannya.”

Maka tahulah kita. Bahwasanya yang dimaksud dengan amar ma’ruf nahi mungkar harus disertai melaksanakan yang ma’ruf dan menjauhi yang mungkar. Dan hal ini menjadi kewajiban setiap muslim sejati.

Sabar dan mengharapkan pahala

Menjadi kewajiban bagi pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar. Tatkala menegakkan kewajiban ini agar bersabar terhadap rintangan yang ditemui. Serta selalu mengharap pahala dari Allah ta’ala. Allah sudah berjanji akan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang menolong agama-Nya. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

” Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. ( QS Muhammad : 7 )

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ

” Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. ( QS At-Thalaq 2-3 )

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

” Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. ( QS At-Thalaq : 4 )

Akhirnya, perkara amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan bagian dari ketaqwaan Bagi yang menegakkannya, maka berhak atas janji Allah ta’ala .

و صلى الله على محمد و آله و صحبه أجمعين

Oleh : Abu Abdillah Tata Abdul Ghoni

Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah

Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Android berikut ini 

Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini


Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY