​Puasa Asyura Bukan Alasan Maulid Itu Boleh

0
886

​Puasa Asyura bukan alasan Maulid

Diantara argumen yang dijadikan landasan dalam peringatan maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah puasa Asyura yang dilakukan oleh Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam. Mereka mengatakan bahwa Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam sangat mementingkan nilai kesejarahan sebuah kejadian. Beliau sadar bahwa waktu tidak mungkin kembali lagi dan manusia hanya bisa mengingat momentum tersebut dan menjadikannya sebagai ibroh pelajaran di masa kini dan masa depan.

Oleh karena itulah Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada tanggal 10  bulan Muharram (asyuro’) untuk memeringati kemenangan Nabi Musa ‘Alaihi Salam atas raja Fir’aun. Ini disebutkan dalam sebuah hadits dari Abdullâh bin Abbas  Radhiyallahu ‘anhuma dalam Shahih Bukhari, no. 1900 :

قَدِمَ النَّبِيُّ n المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا ؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

” Tatkala Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam datang ke Madinah beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari Asyura. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam bertanya, : Hari apa ini ? Orang-orang Yahudi menjawab, : ” Ini adalah hari baik, pada hari ini Allâh selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa Alaihi salam berpuasa pada hari ini.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, : ” Saya lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian (kaum Yahudi).” Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya. ( HR. al-Bukhâri)

Kesadaran Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam atas pentingnya nilai sejarah haruslah kita teladani. Diantara bukti peneladanan kita tersebut yaitu dengan mengadakan peringatan maulid nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam. Karena yang demikian itu sungguh akan mengingatkan kita pada terbitnya cahaya yang menyinari jagad raya.

Jawaban :

Apa yang disampaikan di atas hanyalah merupakan syubhat yang lontarkan untuk membentuk opini agar kaum Muslimin bisa menerima peringatan Maulidin Nabi sebagai sebuah ajaran dan cara beribadah. Namun syubhat ini, bisa dijawab dari beberapa sisi.

Jawaban-jawaban ini kami angkat dari kitab Rasâil Fi Hukmil Ihtifâl bil Maulidin Nabawi, hlm. 133-135 :

Pertama : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, tidak pula para shahabatnya Radhiyallahu ‘anhum , begitu pula para Tabiin dan para Ulama besar setelah mereka tidak merayakan hari kelahiran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Seandainya itu merupakan sebuah kebaikan tentu mereka telah melakukan perayaan sebelum kita melakukannya.

Jika Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah melakukannya lalu kita melakukan, maka hendaklah kita mengingat sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam, : “ Barangsiapa melakukan sebuah amalan tanpa ada contoh dari kami maka amalan tersebut tertolak.”

Jika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah melakukannya, maka ibadah perayakan maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam itu tertolak kepada mereka yang mengada-adakannya, dikemblikan kepada mereka yang mengamalkannya, yang menyerukannya, dan kepada orang yang beranggapan kalau itu adalah bidah hasanah.

Kedua : Adapun perkataan menyebutkan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam sangat memperhatikan kejadian-kejadian penting yang telah berlalu dan bersifat keagamaan, ini adalah perkataan yang tidak berdasar.

Tidak pernah ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam menjadikan waktu kejadian penting yang telah berlalu sebagai momen perayaan dan pengagungan waktu tersebut.

Tidak ada riwayat yang menerangkan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam melakukan ibadah puasa, memberikan makan kepada orang yang membutuhkan atau ibadah lain dalam rangka merayakan atau mengenang waktu kejadian-kejadian penting tersebut. Ini semua tidak ada dasarnya dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam . Ini semua hanya sangkaan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Kalau kita melihat berbagai peristiwa yang mewarnai perjalanan hidup dan dakwah Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam , kita akan dapati banyak sekali kejadian-kejadian penting dan bersejarah dalam hidup Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam .

Diantara peristiwa penting dan bersejarah itu adalah peristiwa kedatangan Malaikat Jibril yang membawa risalah kenabian ketika beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam berada di gua Hirâ, kejadian Isrâ dan Mirâj, hijrah ke Madinah, peperangan Badr, penaklukan kota Mekah, dan kejadian-kejadian bersejarah lainnya.

Betapa besar dan bersejarahnya peristiwa-peristiwa di atas, namun tidak pernah ada riwayat yang menerangkan bahwa beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam membuat acara-acara kumpul-kumpul untuk mengenang dan mengagungkan berbagai peristiwa besar dan bersejarah tersebut. Seandainya benar Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam sangat memperhatikan nilai sejarah dari sebuah kejadian yaang telah berlalu, niscaya Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam telah mengadakan perkumpulan dalam rangka merayakan serta mengagungkan.

Tidak adanya riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam melakukan hal tersebut merupakan bukti kuat yang menunjukkan dugaan di atas tidak benar.

Yang terakhir, puasa Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam di hari Asyura bukanlah sebuah hujjah atau sebuah kaidah yang bisa dijadikan alasan perlunya mengadakan perayaan maulidan, karena perintah melakukan puasa Asyûra itu ada sebelum puasa Ramadhan diwajibkan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan oleh Allâh ta’ala,

Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

” Barang siapa yang mau berpuasa (‘asyura) maka berpuasalah, dan barang siapa yang tidak berpuasa maka tidaklah mengapa

Hadist di atas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim dari hadist Aisyah Radhiyallahu ‘anha dan Ibn Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Dalam Shahîh al-Bukhâri dan Muslim juga terdapat hadist dari Alqamah bin Qais an-Nakhâi, bahwasanya al-Asyas bin Qais datang kepada Abdullah bin Masûd Radhiyallahu ‘anhu pada hari Asyura dan beliau sedang makan. Al-Asyas berkata : Wahai Abu Abdirahaman ! Sesungguhnya hari ini adalah hari Asyûra.  Mendengar ini, Abdullâh bjn Mas’ud mengatakan :

قَدْ كَانَ يُصَامُ قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ رَمَضَانُ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ تُرِكَ

” Puasa ‘Asyura dilakukan sebelum diwajibkannya puasa Ramadhân, setelah diwajibkan puasa Ramadhân, puasa ‘Asyûra (boleh) tidak dilakukan 

Dalam Shahîh Muslim juga terdapat hadist dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

كَانَ رَسُوْلُ الله n يَأْمُرُنَا بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ وَيَحُثُّنَا عَلَيْهِ وَيَتَعَاهَدُنَا عِنْدَهُ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ لَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا وَلَمْ يَتَعَاهَدْنَا عِنْدَهُ 

” Dahulu Rasûlullâh memerintahkan, serta mewanti-wanti kami dengan puasa ‘Asyûra, namun setelah Ramadhan diwajibkan Beliau tidak memerintahkan, tidak melarang kami, tidak pula mewanti-wanti kami dengan puasa ‘Asyûra

Hadits-hadits shahih diatas merupakan bantahan terhadap orang yang menjadikan puasa ‘Asyûra sebagai dalih pembenar untuk melakukan maulidan.

Tidak ada dalam hadits puasa ‘Asyûra peletakan sebuah kaidah yang menyatakan bahwa setiap kejadian penting harus diperingati dan dirayakan.

? Anda ingin mendapat nasehat lebih banyak ?

Kunjungi Kumpulan Materi Seindah Sunnah

Atau

? Anda ingin mendapat broadcast nasehat GRATIS ke nomer Whatsapp Anda ?

Kunjungi link berikut untuk mengetahui Tata Cara mendapatkan Nasehat Gratis Via Whatsapp

Artikel Ini Di Posting oleh Website Seindah Sunnah
_______________________
Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
_______________________
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654

Mohon konfirmasi setelahnya ke : Email : [email protected] atau Facebook Seindah Sunnah