Perang Badr Kubra Kemenangan Pertama Dalam Islam

0
865
Pada suatu hari di tahun ke-2 Hijriyah, telah terbentuk sebuah pasukan kecil yang beranggotakan tidak lebih dari 318 orang prajurit di Kota Nabi n. Pasukan tersebut terdiri dari kaum Muhajirin, Anshar dan kabilah Aus dan Khazraj. Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka adalah pasukan yang siap diturunkan untuk menghadang kafilah dagang kaum Quraisy yang akan kembali dari kota Syam. Kafilah dagang tersebut terdiri dari 1.000 ekor unta yang memuat harta benda yang nilainya tidak kurang dari 50.000 dinar. Kafilah tersebut hanya disertai oleh 40 orang yang dipimpin langsung oleh Abu Sufyan.

 

Dahulu, Badr adalah sebuah tempat peristirahatan yang dikelilingi oleh pegunungan, terdapat didalamnya pepohonan dan mata air, yang mana bisa dipastikan setiap kabilah yang melewati tempat tersebut akan beristirahat disana selama beberapa hari. Oleh karena itu, sangat mudah bagi kaum muslimin untuk melakukan pengepungan. Disaat pasukan kaum muslimin telah bersiap untuk melakukan pengepungan di daerah tersebut, Abu Sufyan berhasil mengetahui rencana mereka. Sehingga ia merubah haluan jalur kafilahnya menuju ke arah barat, menyusuri jalur pantai dan menjauh dari Badr.Tidak cukup sampai disini, ia pun menyewa seseorang untuk mengirim berita ke kota Makkah secepat mungkin dan meminta bantuan bala tentara.

Di tengah perjalanan, Rasulullah n telah mencium pergerakan orang-orang Makkah. Sehingga beliau bermusyawarah dengan para sahabatnya. Setelah itu, mereka bersepakat untuk meneruskan perjalanan menuju Badr. Akhirnya, mereka sampai di Badr pada malam hari itu juga dan langsung mendirikan markas kemudian mengatur strategi perang.

DOA NABI – Shalallahu ‘alaihi wa salam –

Tepat pada shubuh hari Jum’at, tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah berhadapanlah kedua pasukan. Rasulullah n berdoa. “Ya Allah, orang-orang Quraisy benar-benar telah siap untuk berhadapan, diiringi dengan kuda-kuda dan sikap congkak mereka dalam keadaan menantang-Mu. Ya Allah, aku mohon pertolongan-Mu yang telah engkau janjikan padaku. Ya Allah, binasakanlah mereka pagi hari ini.” Kemudian beliau mengatur barisan dan memberikan wejangan.

Tak lama kemudian, beliau kembali ke markas disertai Abu Bakar dan beliau berdoa lagi, “Ya Allah, jika engkau hancurkan pasukan kaum muslimin pada hari ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi selamanya. Ya Allah, jika Engkau menghendaki itu, maka engkau tidak akan disembah selamanya.”

DIMULAINYA PEPERANGAN

Sebelum perang dimulai, majulah tiga penunggang kuda terbaik Quraisy, ‘Utbah dan Syaibah yang keduanya adalah anak dari Rabi’ah dan Al-Walid bin ‘Utbah. Mereka bertanding duel satu melawan satu. Maka, majulah ‘Ubaidah bin Al-Harits, Hamzah dan Ali. Hamzah berhasil membunuh Syaibah dan Ali berhasil membunuh Al-Walid. Sementara ‘Ubaidah dan ‘Utbah bertarung dengan sangat sengit, hingga ‘Ubaidah terluka dan terpotong kakinya. Kemudian Ali dan Hamzah berhasil membunuh ‘Utbah. Adapun ‘Ubaidah meninggal empat atau lima hari setelah itu. Pada perjalanan pulang menuju Madinah.

Orang-orang musyrikin pun merasa jengkel dengan hasil pertarungan tersebut. Kemarahan mereka pun tak terbendung lagi, mereka menghantam barisan kaum muslimin dengan bengisnya. Kaum muslimin tetap bertahan pada posisi mereka, sembari membela diri dan menyeru, “Ahad.. Ahad..” Rasulullah pun terjun ditengah-tengah mereka sehingga berkobarlah semangat juang mereka. Kemudian, mereka pun berhasil menumbangkan musuh satu persatu.

PERTOLONGAN DARI LANGIT

Termasuk suatu bagian yang menarik dari perang Badr, turunnya pertolongan Allah l dari atas langit. Yaitu malaikat-malaikat Allah yang jumlahnya ribuan, menebas leher-leher musuh dan mematahkan jari-jari mereka. Sehingga, terlemparlah kepala seseorang tanpa diketahui siapa yang memenggalnya. Akhirnya, kaum muslimin berhasil mengusir musuh. Sebagian mereka terbunuh dan sebagian lainnya tertawan.

Pada saat pertempuran berlangsung, Iblis benar-benar hadir di tengah-tengah kaum musyrikin, ia menjelma menjadi Suraqah bin Malik. Ia mendukung mereka dan memberi semangat kepada kaum muslimin. Namun, ketika ia melihat para malaikat dan sepak terjang mereka, ia akhirnya mundur dan lari menuju laut merah lalu menyeburkan dirinya disana.

YAUMUL FURQAN

Perang Badr merupakan pertempuran antara kekafiran dan keimanan. Ketika itu seseorang mampu membunuh pamannya (yang kafir), anak, ayah, saudaranya dan orang yang paling dekat dengannya. Pada peperangan ini, Umar bin Al-Khaththab a telah membunuh pamannya sendiri, yaitu Al-‘Ash bin Hisyam. Berhadapan pula Abu Bakar a dengan anaknya, yakni Abdurrahman, dan kaum muslimin menawan Al-Abbas, paman Rasulullah n. Yang mana pada pertepuran itu ia masih berada di atas kekafiran. Demikianlah, di dalam peperangan tersebut Allah membedakan antara yang hak dan yang bathil. Maka dinamakan hari itu dengan Yaumul Furqan (Hari Pembeda), yakni hari peperangan Badr pada tanggal 17 bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriyyah.

BERAKHIRNYA PEPERANGAN

Alhamdulillah, perang Badr berakhir dengan kemenangan di pihak kaum muslimin. Pada perang ini, terbunuh dari kaum musyrikin sebanyak 70 orang. Terbunuh pula pada perang ini pembesar mereka, Abu Jahal. Yang membunuhnya adalah dua orang pemuda Anshar Mu’adz dan Mu’awwadz, keduanya adalah anak dari Afra’. Ketika peperangan dimulai, kedua pemuda ini bergerak cepat menghadang Abu Jahal dengan pedang mereka. Salah seorang diantara mereka menebas betisnya. Sehingga, terlemparlah kakinya bagaikan terlemparnya biji-bijian ketika dipatuk. Sedangkan yang lain, menikamnya beberapa kali sehingga Abu Jahal berada di dalam keadaan titik napas penghabisan.

Dan telah gugur pula pada perang ini dari kaum muslimin sebanyak 14 orang dari kaum Muhajirin dan 8 orang dari kaum Anshar. Setelah mereka kembali ke Madinah dan berjalannya musyawarah, akhirnya ditetapkan hukuman bagi para tawanan. Yaitu tebusan yang berkisar antara 4.000 hingga 3.000 dinar, bahkan hingga 1.000 dirham. Bagi tawanan yang pandai baca tulis, tebusan mereka adalah mengajarkannya kepada 10 anak kaum muslimin. Dan sebagian tawanan dibebaskan tanpa tebusan.

Demikian sejarah singkat terjadinya perang Badr. Mudah-mudahan dengan mempelajari perjalanan hidup Nabi Muhammad n dapat menambahkan rasa cinta dan ittiba’ (mengikuti) kita kepada beliau. Yang mana salah satu kunci dari kebahagiaan dunia terdapat pada keduanya. Wallahu A’lam.

Sumber : Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, Raudhatul Anwar fi siiratin Nabiyyil Mukhtar, dengan sedikit perubahan.

Artikel Ini Di Posting oleh Website Seindah Sunnah
_______________________
Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
_______________________
Bagi para pembaca yang Ingin Berdonasi untuk kemajuan dakwah kami

Bisa transfer ke rekening BNI Syariah kantor cabang Surakarta 0454-730-654

Mohon konfirmasi setelahnya ke : Email : [email protected] atau Facebook Seindah Sunnah