Khutbah Nabawi : Pentingnya Introspeksi Diri

0
333

خطبة الجمعة من المسجد النبوي 28 جمادى الثانية 1439 ه

الخطيب الشيخ د. على بن عبد الرحمن الحذيفي

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi, 28 Jumadil Akhir 1439 H

Khotib : Syekh Dr.Ali bin Abdurahman Al-Hudzaifi

Khotbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang menerima taubat hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahannya, yang rahmat dan ilmuNya meliputi segala sesuatu. Dia melipat-gandakan nilai kebaikan dan meninggikan derajat pelakunya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya; tidak ada suatu apapun yang dapat melemahkanNya di bumi dan di langit.

Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang Dia teguhkan dengan pertolongan dan mukjizat dariNya.

Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang senantiasa berpacu dalam kebaikan.

Selanjutnya:

Bertakwalah kepada Allah dengan mendekatkan diri kepadaNya dalam meraih ridhaNya, serta menjauhi segala yang mengundang kemurkaan dan kemarahanNya.

Sungguh sentosa dan beruntung orang yang bertakwa, dan sungguh kecewa dan merugi orang yang mengikuti hawa nafsu.

Hamba Allah sekalian:

Ketahuilah bahwa kesuksesan dan kebahagiaan seseorang terletak pada pengendalian diri, kemampuan mengontrolnya dan mengawasinya pada setiap perbuatan yang kecil dan yang besar, baik ucapan maupun tindakan.

Barangsiapa yang menginstrospeksi dirinya dan mengendalikan ucapan, tindakan dan bisikan hatinya sesuai kehendak dan keinginan Allah, maka sungguh besar kesuksesan yang diraihnya.

Allah berfirman:

“Adapun orang yang takut akan perjumpaan dengan Tuhannya dan mengendalikan diri dari hawa nafsu, maka sesungguhnya surga adalah tempatnya”

Firman Allah:

“Dan bagi orang yang takut akan perjumpaan Tuhannya mendapat dua surga”

Firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah seseorang menimbang-nimbang apa yang dilakukan untuk hari esok. Takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan”

Firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, manakala ditimpa was-was dari setan, maka mereka ingat Allah; lalu ketika itu pula mereka melihat kesalahan-kesalahannya”

Firman Allah:

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang sering menyesali (dirinya sendiri)”

Menurut para pakar tafsir, Allah bersumpah dengan nafsu yang menyesali diri atas kelalaiannya dalam melakukan kewajiban dan menerjang larangan; nafsu yang selalu mempersalahkan wataknya sendiri agar menjadi baik.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik atau diam”. HR. Bukhari dan Muslim.

Tentu perangai ini tidak akan terwujud kecuali melalui pengontrolan diri.

Syadad bin Aus radhiyallahu anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Orang yang cerdik adalah orang yang selalu mengontrol dirinya dan berbuat untuk masa sesudah matinya, sedangkan orang yang tidak berdaya ialah orang yang selalu menuruti hawa nafsunya, namun berharap banyak kepada Allah”. Hadis Hasan

Umar bin Khatab radhiyallahu anhu berkata : Perhitungkanlah untuk diri kalian sebelum kalian diperhitungkan. Timbang – timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Persiapkanlah diri kalian untuk penghitungan terbesar kelak”

Maimun bin Mahran berkata: “Orang yang bertakwa jauh lebih bisa mengontrol dirinya dari pada seorang mitra yang kikir kepada mitranya”.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : “Orang mukmin melihat dosa-dosanya seakan – akan terjelma seperti gunung, takut menjatuhinya. Sedangkan orang yang suka membangkang melihat dosa-dosanya seakan-akan berupa lalat yang berlalu lalang di batang hidungnya, maka cukuplah ia mengusirnya dengan telapak tangannya”. HR. Bukhari

Orang mukmin selalu mengontrol dirinya dan mengawasinya serta berupaya meluruskannya sebaik-baiknya; mengarahkan dirinya secara sungguh-sungguh untuk melakukan ibadah dan ketaatan dengan penuh keikhlasan, bersih dari pencemaran bid’ah, pamer dan pembanggaan amal, ia beramal semata-mata karena Allah dan negeri akhirat.

Selain itu, selalu mengendalikan dirinya dalam beramal kebajikan agar berjalan sesuai sunah nabi shallallahu alaihi wa sallam serta melakukan ibadah secara berkesinambungan tanpa surut ke belakang atau mengalami kemandekan.

Allah berfirman :

“Orang-orang yang bersunguh-sungguh menempuh jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah pasti bersama orang-orang yang berbuat kebajikan”

Allah berfirman:

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh (melakukan kebajikan ) maka sejatinya dia bersungguh-sungguh untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tentulah Maha Kaya (tidak membutuhkan) semesta alam”

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan kebenaran, maka sembahlah Allah dengan memurnikan peribadatan kepadaNya. Ingat, hanya milik Allah saja agama yang murni”

Allah berfirman:

“Katakanlah, jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan memaafkan dosa-dosa kalian”

Sufyan At-Tsauri berkata : “Aku belum pernah melakukan terapi yang lebih sulit dibanding yang kulakukan terhadap niat di hatiku, karena selalu berubah-ubah”.

Fadhal bin Ziyad berkata : “Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang niat beramal. Aku katakan, bagaimana niatnya ? Ia menjawab : Seseorang harus memberi terapi kepada dirinya, yaitu janganlah karena manusia jika dirinya hendak beramal”

Syadad bin Aus meriwayatkan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Siapa yang melakukan shalat karena pamer, sungguh telah berbuat kesyirikan. Siapa yang berpuasa karena pamer, sungguh telah berbuat kesyirikan. Siapa yang bersedekah karena pamer, sungguh telah berbuat kesyirikan”. HR. Ahmad dalam Almusnad, Hakim dan Tabrani dalam Alkabir

Seorang beriman selalu mengontrol dirinya terkait dengan ucapannya dan pernyataannya; maka ia tidak melepas lidahnya berbicara dengan kata-kata yang batil dan terlarang. Dirinya selalu ingat ada dua malaikat yang ditugasi mencatat setiap kalimat yang dilontarkannya dan perbuatan yang dilakukannya; karena hal itu membawa konsekuensi pahala atau dosa.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) pengawas, yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat. Mereka mengetahui apapun yang kalian kerjakan”

Allah berfirman :

“Tidak ada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir”

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata : “Malaikat-malaikat tersebut mencatat segala apa yang dikatakan seseorang, perkataan baik atau buruk, sampai mencatat ucapannya, “aku sudah makan, minum, pergi, datang, melihat dan seterusnya”.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Ada seseorang yang mengucapkan suatu perkataan yang mendatangkan ridha Allah tanpa menyadarinya, dan lantaran itu Allah meninggikan kedudukannya beberapa derajat. Di lain pihak, ada seseorang yang melontarkan kata-kata yang menyebabkan kemurkaan Allah tanpa menyadarinya, dan lantaran itu ia terjun ke neraka Jahanam”. HR. Bukhari.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada suatu apapun di atas bumi ini yang lebih pantas dipenjarakan dalam waktu lama selain lidah”.

Abu Bakar radhiyallahu anhu pernah memegang lidahnya sendiri sambil berkata : “Inilah organ tubuh yang menjerumuskan diriku”.

Selain itu, seorang muslim berkewajiban pula mengontrol dirinya secara terus menerus terkait dengan bisikan dan was-was yang datang dalam hati. Sebab asal-muasal kebaikan dan keburukan adalah dari bisikan dan lintasan pikiran dalam hati.

Jika bisa mengendalikannya sehingga dirinya merasa senang dan tenteram dengan lintasan suara hati yang positif lalu melaksanakannya, maka beruntunglah dia. Dan jika telintas bisikan-bisikan setan, lalu berusaha mengusirnya dan memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan-gangguan tersebut, maka selamatlah dirinya dari kemungkaran dan perbuatan dosa.

Akan tetapi manakala dirinya mengabaikan bisikan-bisikan setan dan justru meresponnya, maka terjerumuslah ia ke dalam perbuatan terlarang.

Allah berfirman :

“Jika kamu ditimpa suatu hasutan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.

Allah memerintahkan kita berlindung kepadaNya dalam surah An-Nas dari godaan musuh yang nyata ini.

Ibnu Abbas berkata : “Sesungguhnya setan selalu mendekam di dalam hati anak Adam … dan seterusnya hadis.

Anas radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya setan itu meletakkan paruhnya di hati anak Adam; Jika seseorang berzikir kepada Allah, maka setan mundur, dan jika lalai berzikir, maka setan mamatuk hatinya. Itulah bisikan hati yang selalu datang dan pergi”. HR. Abu Ya’la Almushili.

Menjaga hati dari dosa adalah dengan selalu mewaspadai bisikan setan, lalu dengan melindunginya dari hasutan-hasutannya. Allah berfirman:

“Janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepada kalian supaya kalian memahami”.

Barangsiapa selalu mengontrol dirinya secara sungguh-sungguh, maka akan banyak kebaikannya dan menjadi berkurang keburukannya. Dengan demikian akan keluar dari dunia secara terpuji dan dibangkitkan dalam keadaan senang serta akan berkumpul bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang diutus sebagai saksi.

Namun barangsiapa mengikuti hawa nafsunya, berpaling dari Al-Qur’an, berbuat apa yang disenangi hawa nafsunya, menikmati kelezatan syahwatnya, melanggar dosa-dosa besar dan menyerahkan kendali dirinya kepada setan, maka setan akan menjerumuskannya ke dalam setiap dosa besar sehingga ia kekal bersama setan dalam azab yang pedih. Allah berfirman:

“Janganlah mengikuti orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, dan ia menuruti keinginan nafsunya, sedangkan urusannya melampaui batas”.

Allah berfirman:

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkannya, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin sekiranya antara dirinya dan hari itu ada masa yang jauh; Allah memperingatkan kalian terhadap siksa-Nya”.

Allah berfirman:

“Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kalian, maka waspadalah terhadapNya”.

Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepada kita semua berkat pengamalan Al-Qur’an yang agung.

===00===

Khotbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang menghidupkan hati melalui Al-Qur’an, yang menerima amal kebajikan dan memaafkan kesalahan.

Aku memuji Tuhanku, berterima kasih, bertobat dan memohon ampun kepadaNya. Aku bersaksi behwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, yang Maha mengetahui segala yang gaib. Aku pun bersaksi bahwa nabi dan pemimpin kita Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya yang menyeru ke jalan kebaikan.

Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hambaMu dan rasulMu Muhammad beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya sebagai panji-panji petunjuk dan pelita-pelita dalam kegelapan.

Selanjutnya:

Bertakwalah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Sebab takwa merupakan tabungan aset di dunia dan akhirat.

Hamba Allah sekalian:

Hati yang hidup adalah hati yang merasa senang dengan kebaikan dan merasa sedih dengan keburukan, sedangkan hati yang mati ialah hati yang tidak merasa sakit dengan kemaksiatan dan tidak peka terhadap dosa; tidak merasa gembira ketika berbuat kebaikan dan ketaatan, pun pula tidak merasa dirinya terhukum oleh perbuatan dosa.

Itulah hati yang terkecoh oleh kesehatan diri dan limpahan harta dunia, bahkan nikmat-nikmat itu disangkanya sebagai penghargaan terhadap dirinya. Allah berfirman:

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu berarti bahwa Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tidak, sebenarnya mereka tidak sadar”.

Disebutkan dalam hadis :
“Akan diunjukkan kepada hati berbagai fitnah bagaikan anyaman tikar, selembar demi selembar; hati yang mengingkarinya akan diberi tanda titik putih, sedangkan hati yang menyerapnya akan diberi tanda titik hitam. Sampai akhirnya hanya ada dua hati; hati putih cemerlang yang tidak akan terpengaruh fitnah selama masih ada langit dan bumi, dan hati yang hitam legam bagaikan mangkuk yang ditelungkupkan sehingga tidak bisa mengenal yang baik dan tidak bisa menolak yang munkar kecuali yang terserap oleh hawa nafsunya”.

Semua penyakit hati akan membuat hati itu sakit bahkan mematikannya secara total apabila seseorang tidak berupaya mengontrol dirinya.

Maka termasuk ketegasan dan kearifan seseorang adalah ketika ia selalu mengontrol dirinya setiap siang dan malam, minggu, bulan dan tahun untuk mengetahui dari mana ia memulai, lalu bertobat dan menyusuli kewajiban yang terabaikan, dengan harapan langkah-langkahnya tebimbing dan terarah menuju husnul khatimah (kesudahan yang baik).

Orang mukmin hatinya hidup dan pandangannya tajam. Jika diberi nikmat bersyukur. Jika berdosa ber-istighfar dan jika mendapat cobaan bersabar.

Di dalam hati orang mukmin terdapat pengingat yang selalu membangunkannya dari kelalaian dan mewanti-wantinya dari kebinasaan.

Disebutkan dalam sebuah hadis :Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat satu garis lurus dan di samping kanan dan kirinya terdapat beberapa garis. Di penghujung garis lurus itu ada penyeru, dan di ujung atasnya ada juru pengingat. Garis lurus tersebut adalah jalan menuju Allah. Penyeru di penghujungnya adalah kitab Allah sedangkan juru pengingat yang di atasnya adalah penasihat dari Allah dalam hati setiap mukmin. Adapun garis-garis di samping kanan dan kiri, semuanya adalah jalur kesesatan.

Hamba Allah sekalian :

Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman sampaikanlah shalawat dan salam dengan sesungguhnya kepadanya.

=== Doa Penutup ===

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.