Khutbah Masjid Nabawi : Mengingat Kematian Dan Menghindari Fitnah

0
121

” Mengingat Kematian Dan Menghindari Fitnah ”

Khotbah Jumat, Masjid Nabawi,  25 Rabiul Akhir 1439 H

Oleh : Fadhilatus Syekh Dr. Shalah bin Muhammad Al-Budair -hafidzahullah-

Khotbah Pertama

Kaum muslimin, tidak ada kelanggengan yang bisa diharapkan di dunia, tidak ada kelestarian yang bisa didambakan di dunia. Manusia bukanlah apa-apa selain mahluk yang pasti mangkat sebagai putra dari mahluk yang telah mangkat.

Masa yang ada hanyalah lintasan waktu sehari dan semalam. Kematian pasti datang dan sudah dekat kedatangannya.

Sukma seseorang semakin menjauh dari kelahirannya dan semakin mendekati kematian dan masa keluar dari raganya.

Duhai kematian yang tidak mungkin dianulir ** Jikalau akhir kontrak kehidupan telah habis temponya.

Waktu pasti akan menyerahkan estafet sisa tugasmu ** Pada kesempatan lain yang bukan lagi menjadi milikmu.

Betapa cepatnya perjalanan waktu dalam hidup kita. Sesekali berlalu di hadapan kita yang kemudian akan berlalu menggilas kita. Setiap hari angan-angan semakin menjauh, namun kehidupan nyata semakin mendekati tujuan akhirnya.

Di manakah dahulu segala yang pernah ada ** Di antara umat manusia yang semula menghiasi kehidupan.
Masa datang menghampiri mereka lalu memusnahkan ** Sejumlah mereka, dan yang pasti akan menghampiri kita pula.

Betapa sering kita menonton mayat yang semula hidup bersama kita ** Dan hampir diri kita menjadi tontonan yang sama.

Mengapakah kita merasa aman dari kematian, seolah-olah ** Kita menganggap kematian tidak bakal menemukan jalan menuju kita.

Wahai insan yang lalai dan lengah !

Sudah lupakah Anda bahwa kita semua ini manusia. Bisa jadi ketentuan takdir menelikung kita dalam perjalanan lalu mengantarkan kita ke liang lahad.

Kematian mengepung kita, penghalauan menghimpun kita. Sampai kapankah Anda insaf dan berhenti. Sampai kapankah pendengaran Anda tidak mengindahkan peringatan orang lain, dan lubuk hati Anda tidak lunak terhadap cercaan orang yang mencerca.

Bukankah sudah saatnya hati Anda merunduk ?

Dimanakah shalat tahajud Anda ? Adakah karena sudah menjadi kebiasaan kita ataukah memang hati kita sudah membatu ?

Bangkitlah dan waspadalah wahai saudaraku. Janganlah terlena tidur.

Nikmatkah tidurmu wahai Anda yang terpedaya sedangkan api neraka sedang menyala nyala yang panasnya tidak akan mereda dan bara apinya tidak kunjung padam.

Nabi pun tidak hidup kekal di tengah umatnya ** Andaikan Allah mengekalkan manusia sebelumnya, tentu nabilah yang paling layak hidup kekal.

Kematian sedang membidikkan anak panahnya ke arah Anda yang tidak akan meleset ** Siapa yang selamat dari bidikan anak panahnya hari ini, tidaklah akan terlepas dari bidikannya hari esok.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ ، كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ . [الأنبياء/34-35]

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu; Maka jikalau kamu mati, apakah lalu mereka akan kekal? tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan” [ Qs Al-Anbiya 34-35] 

Di manakah mereka yang kerap kali bergaul dengan kita ?

Manakah orang-orang yang kita kenal keramah-tamahan dan yang saling menyayangi ?

Betapa sering kita memejamkan pelupuk mata lantaran kehilangan kekasih. Sudah berapa banyak teman sejawat yang kita makamkan lalu kita tinggalkan ?

Betapa sering kita membaringkan sanak kerabat di relung lubang kubur, namun kita belum juga insaf ?

Adakah kematian mengenal ampun terhadap pasien kita yang sudah tidak berdaya lagi ?

Pernakah kematian membiarkan hidup seorang pekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya ?

Adakah kematian menangguhkan tempo orang yang mempunyai tanggungan keluarga demi keluarganya ?

Hai hamba Allah !

Setiap hari selalu berdatangan hikmah demi hikmah ** Pada kematian terdapat peringatan untuk berhenti jika memang Anda mau berhenti.

Sampai kapankah, hingga kapankah, lalu sebatas manakah ** Anda tidak berhenti dan tidak menjaga diri?

Sejauh mana lagi Anda terus terpedaya dalam kelalaian ** Sudah sedemikian dalam Anda tenggelam dalam tidur, kapankan waktunya Anda bangun ?

Sesaat umur Anda terbuang, tidak akan tertebus dengan imbalan apapun sepenuh langit dan bumi.

Sejauh itukah kepandiran Anda membeli sesuatu yang fana dengan harga keabadian ** Kemurkaan dengan keridhaan dan neraka dengan surga ?

Adakah Anda sebagai sahabat karib diri Anda atau sebagai lawan ** Sehingga Anda mencampakkan diri Anda ke jurang kehancuran.

Kalau begitu –amboi- Anda menjual diri Anda sedemikian murah ** Dan dengan begitu Anda bukanlah diri Anda yang sebenarnya.

Hari ini Anda bisa bersenang-senang sesuka hati ** Namun esok hari Anda mati dan tutuplah sudah pena pencatat perbuatan Anda.

Seorang pelaku dosa besar menjadi fasik ** Demikian pula halnya ketika dirinya terus menerus berbuat dosa kecil.

Seseorang tidak keluar dari keimanan ** Karena perbuatan dosa dan pelanggaran yang membinasakan.

Namun berkewajiban kembali bertobat ** Dari segala perbuatan yang telah mendatangkan dosa.

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . [النور/31]

“Bertobatlah kelian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung” [ Qs An-Nur 31] 

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا. متفق عليه 

“Sesungguhnya Allah membentangkan tanganNya di malam hari agar bertobat pelaku dosa di siang hari, dan membentangkan tanganNya di siang hari agar bertobat pelaku dosa di malam hari hingga matahari terbit dari barat” [ Muttafaq alaih ] 

Aku memohon ampun kepada Allah dari dosaku dan sikap keterlaluanku ** Sungguh diriku meskipun tertutupi tetap bersalah.

Dorongan nafsu yang mengajakku maksiat ** Menjadi kegelapan yang menghalangiku dari cahaya.

Sungguh aku merasa kagum terhadap kelalaianku dan keterpedayaanku ** Padahal kematian memanggilku besok yang harus aku penuhi.

Aku pun merasa heran akan perasaanku aman dari kematian ** Meskipun kematian itu terus meloncat dan merayap ke arahku.

Sungguh malang nasibku jika diriku terhalang dari surga Adan ** Sungguh celaka diriku jika sampai masuk neraka.

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . [ الزمر/53]

“Katakanlah, “Hai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [ Qs Al-Zumar 53 ] 

===00===


Khotbah Kedua

Kaum muslimin sekalian…

Agama merupakan modal utama dan kehormatan seseorang di dunia ini dan di akhirat kelak.

Setiap keretakan, hanyalah agama yang mampu merekatkan. Namun jika yang retak agamanya, tidaklah mungkin ada yang mampu merekatkan.

Setiap musibah betapapun besarnya tetap ringan. Namun musibah yang menimpa agama, benar-benar bencana besar.

Itulah kekacauan situasi yang sedang menerpa, bergejolak dan meluap; alur jalan ular sudah terlihat di dataran rendah, serangga berbisa menyelinapkan diri di bawah tanah, kalajengking berjalan samar masuk ke lobang telinga, hewan beracun bertelur di bawah batu besar.

Alhasil dunia telah berada di antara bencana dan kekacauan. Maka persiapkanlah diri kalian menghadapi bencana dengan sabar.

Hudzaifah bin Alyaman –radhiyallahu anhu- berkata : Ya Rasulallah, kami pernah berada dalam kondisi buruk lalu Allah menghilangkan keburukan itu dan menggantikannya dengan kebaikan melalui tanganmu. Maka apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan? Beliau menjawab, ‘Ya’. Hudzaifah bertanya, keburukan apakah itu ? Beliau menjawab, Fitnah (kekacauan) seperti pekatnya kegelapan malam, yang datang susul menyusul, kedatangannya kepada kalian serupa bagaikan muka sapi. Kalian tidak tahu, yang mana ini dari yang itu”. [ HR.Ahmad ] 

Hudzaifah –radhiyallahu anhu- berkata : “Tidak berpengaruh buruk fitnah itu terhadap dirimu selagi kamu mengenal agamamu. Fitnah itu berbahaya ketika kebenaran dan kebatilan rancu bagimu sehingga kamu tidak tahu manakah yang kamu ikuti; itulah fitnah (kekacauan) yang sesungguhnya”. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah.

Hudzaifah –radhiyallahu anhu- berkata pula : “ Jika seseorang diantara kalian ingin mengetahui apakah dirinya terkena fitnah (kekacauan) ataukah tidak, maka hendaklah melihat; Jika dirinya memandang yang halal sebagai seseuatu yang haram, maka telah terjangkit fitnah. Dan jika memandang yang haram sebagai sesuatu yang halal, maka telah terjangkit fitnah”. Dikeluarkan oleh Alhakim.

Artinya bahwa pendapat seseorang mudah berubah karena mengikuti pendapat orang, terbawa pengaruh hawa nafsu dan syahwat.

Malik bin Anas berkata : Sering  kami kedatangan seseorang yang lebih unggul berdebat dibanding orang lain, tujuannya agar kami menolak ajaran yang disampaikan oleh Jibril alaihissalam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

Apakah kami harus diam setelah tulang-tulangku rapuh ** Sementara kematian merupakan peristiwa terdekat bagiku.


Aku tantang siapapun penghalang yang suka cekcok ** Aku jadikan agamanya sebagai sasaran tembak bagi agamaku.

Akankah kutinggalkan apa yang telah kuketahui demi pendapat selain pendapatku ** Suatu pendapat tidaklah sama dengan pengetahuan yang pasti.

Apa korelasi percekcokan mulut dengan keyakinanku ** Percekcokan hanyalah hampa terhempas ke kanan dan kekiri.

Padahal telah ada aturan-aturan lurus yang melambai di setiap ruang dan waktu.

Kebenaran tidak mungkin dapat dirahasiakan ** Cahaya terangnya bagaikan cahaya fajar pagi yang benderang.

Jalan hidup kami tidak tergantikan oleh sistem yang buram ** Yang tidak sejalan dengan sistem putra Aminah yang terpercaya.

Abdullah Ad-Dailami berkata : Hilangnya agama awal mulanya disebabkan meninggalkan sunah; agama ini bisa hilang sunah demi sunah seperti halnya hilangnya kekuatan tali-temali satu persatu.

Abu Bakar As-Sidiq –radhiyallahu anhu- berkata : Aku tidak tinggalkan satupun sunnah yang telah dijalankan oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam- melainkan aku jalankan pula. Sebab aku sungguh khawatir jika aku tinggalkan suatu apapun di antara perintah beliau, diriku akan tersesat”.

Maka konsistenlah kalian wahai hamba Allah dalam menjalankan ajaran Al-Qur’an, As-Sunah, syariat, agama, nilai-nilai luhur dan akhlak mulia.

Jauhilah kaum yang sesat jalan dan suka menebar fitnah. Waspadalah terhadap mereka yang ingin menggelincirkan kalian dari sebagian ajaran yang diturunkan Allah untuk kalian.

Ya Allah, kami memohon kepadaMu keteguhan dalam urusan kami dan tegar dalam menjalankan kebenaran.

=== Doa Penutup ===

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.