Khutbah Masjid Nabawi : Kesiapan Menyambut Kematian

0
216

Khotbah Jum’at, Masjid Nabawi, 16 Jumadal-Ula 1439 H.

Oleh : Syeikh Dr. Ali Bin Abdurrahman Al-Hudzaifi -hafidzahullah-

“Kesiapan Menyambut Kematian”

Khotbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang Maha Hidup, Maha Pengatur, yang tidak akan mati, Pemilik kerajaan, kemuliaan dan keperkasaan.

Aku memuji Tuhanku, aku bersyukur dan aku bertobat kepadaNya serta memohon ampunan-Nya.

Aku bersaksi, tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Penguasa mutlak atas hamba-hambaNya. Dia berbuat apapun yang dikehendaki-Nya dan memberi keputusan sesuai keinginan-Nya.

Aku-pun bersaksi bahwa Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- seorang nabi pilihan, beserta seluruh keluarganya dan para sahabatnya yang setia kepada agama yang suci.

Amma ba’du

Bertakwalah kepada Allah – subhanahu wa ta’ala – dengan mencari ridha-Nya dan menjauhi pelanggaran terhadap aturan-Nya.

Sungguh ketakwaan membawa kebaikan bagi segala urusan hidup kalian, sebagai bekal yang perlu kalian persiapkan untuk menghadapi kondisi ke depan yang kalian takuti.

Ketakwaan merupakan benteng dari segala bahaya yang menghancurkan. Melalui jalur ketakwaan Allah –subhanahu wa ta’ala- menjanjikan surga kepada para hamba-Nya. Masing-masing orang bekerja dalam hidup ini untuk memenuhi kepentingan dirinya, memperbaiki urusannya dan memenuhi hajat hidupnya.

Di antara mereka ada yang membangun urusan agamanya sekaligus urusan dunianya. Mereka itulah orang-orang yang di dunia ini dan di akhirat Allah karuniai kebaikan, serta terhindarkan dari azab neraka.

Namun ada pula orang yang bekerja untuk dunianya saja, sementara jatah akhiratnya disia-siakan.

Orang-orang model inilah yang hidupnya hanya bersenang-senang untuk makan seperti halnya binatang, sehingga neraka-lah kelak menjadi tempat tinggal mereka.

Setiap kegundahan pikiran dan pergumulan pasti ada jatuh temponya.

Firman Allah :

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى [ النجم/42]

“Dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)”. Qs An-Najm : 42

Maha suci Allah yang telah menjadikan kesibukan dalam hati setiap manusia, dan menempatkan di dalamnya kegelisahan, serta menciptakan kemauan dan tekad bulat pada setiap orang untuk berbuat sesuatu jika menghendaki dan menginginkannya, atau tidak berbuat jika itu memang menjadi kehendaknya.

Sedangkan kehendak Allah dan kemauan-Nya adalah di atas segala kehendak dan kemauan. Firman Allah :

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [ التكوير/ 29]

“Kalian tidak berkehendak kecuali jika dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam.” Qs At-Takwir : 29

Maka apapun yang telah dikehendaki Allah pastilah terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.

Kematian merupakan persinggahan setiap makhluk di muka bumi. Kematian adalah suatu tempat berlabuh bagi setiap yang bernyawa di dunia ini. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah, termasuk para malaikat; Jibril, Mikail, Israfil –alaihimussalam- bahkan malaikat pencabut nyawa-pun akan mengalami kematian.

Firman Allah :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ، وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ [ الرحمن/26 – 27]

“Semua yang ada di bumi akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” Qs Ar-Rahman: 26-27

Kematian adalah garis finish perjalanan kehidupan dunia, dan merupakan garis awal kehidupan alam akhirat. Dengan kematian, maka seluruh rangkaian kenikmatan dunia terputus. Begitu memasuki kematian, seseorang merasakan kenikmatan yang agung atau siksaan yang pedih.

Kematian merupakan lambang kebesaran Allah yang menunjukkan kemaha-kuasaanNya dan keperkasaan-Nya terhadap semua makhluk-Nya. Firman Allah :

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [ الأنعام/61]

“Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian telah datang kepada salah seorang di antara kalian, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak lalai melaksanakan tugas.” Qs Al-An’am : 61

Kematian mencerminkan keadilan Allah –subhanahu wa ta’ala- Dia tidak pandang bulu dalam menjatuhkan kematian itu. Firman Allah :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [ العنكبوت/57]

“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, kemudian hanya kepada Kami kalian dikembalikan.”Qs Al-Ankabut : 57

Kematian akan memutus segala kelezatan hidup, menghentikan secara total gerakan badan, menceraikan seseorang dari komunitasnya, menghalanginya dari segala kegemarannya. Hanya Allah sendiri yang mengendalikan hidup dan kematian makhlukNya. Firman Allah :

وَهُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [ المؤمنون/80]

“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah (yang mengatur) pergantian malam dan siang, tidakkah kalian mengerti?.”Qs Al-Mukminun : 80

Kematian tidak dapat dicegah oleh petugas penjaga pintu, tidak bisa dicegat oleh bodyguard, tidak tergantikan oleh harta benda ataupun oleh anak dan saudara.

Tidak ada yang lolos dari kematian; orang kecil dan orang besar, si kaya dan si miskin, orang berpangkat atau orang rendahan. Firman Allah :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ [ النساء / 78]

“Di mana pun kalian berada, kematian akan menjemput kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang kokoh,” Qs An-Nisa’ : 78

Firman Allah :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [ الجمعة / 8]

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, benar-benar akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. Qs Al-Jum’ah :8

Kematian datang tiba-tiba dalam waktu yang telah ditentukan. Firman Allah :

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [ المنافقون/11]

“Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktunya. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”. Qs Al-Munafiqun : 11

Kedatangan kematian tanpa meminta izin terlebih dahulu kecuali kepada para nabi –alaihimussalam- mengingat kedudukan mereka yang mulia di sisi Allah –subhanahu wa ta’ala-, karena itulah kematian meminta izin kepada setiap para nabi.

Dalam sebuah hadis disebutkan :

” مَا مِنْ نَبِيّ إلّا خَيّرَه اللهُ بَيْنَ الخَلوْدِ فِى الدُّنْيَا ثمَّ الجَنّةِ أو الْمَوْتِ فيَخْتَارُ المَوْتَ ”

“Tidak ada seorang nabi-pun melainkan Allah menyodorkan dua pilihan kepadanya; antara kekal di dunia lalu masuk surga dan kematian, maka mereka memilih kematian”.

Sudah menjadi kehendak Allah bahwa anak Adam pasti keluar dari kehidupan dunia ini melalui pintu kematian untuk memutus segala keterikatannya dengan urusan dunia sehingga sehelai rambutnya-pun tidak lagi merindukan dunia selama dirinya benar-benar beriman.

Anas –radhiyallahu anhu- berkata, bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :

“مَا أَحَدٌ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةٌ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ ” رواه البخارى ومسلم

“Tidak seorangpun yang telah mendapatkan kedudukan terhormat di sisi Allah, lalu masih menginginkan kembali ke dunia, sekalipun dunia diberikan kepadanya, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh lagi hingga sepuluh kali, karena dirinya telah melihat keistimewaan mati syahid.” HR. Bukhari dan Muslim.

Kematian merupakan peristiwa yang tidak dapat dihindari. Sakitnya kematian tidak ada seorangpun yang dapat melukiskannya karena dahsyatnya. Nyawa manusia tercabut dari struktur jaringan urat, daging dan saraf. Seluruh rasa sakit separah apapun yang pernah dialami manusia tidaklah seberapa dibanding sakitnya kematian.

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- berkata :

“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ” رواه الترمذى

”Aku melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika menghadapi kematian, sedangkan di dekatnya ada sebuah mangkuk berisikan air, beliau memasukkan tangannya ke dalam mangkuk itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolonglah aku saat menghadapi sakaratul maut.” HR. Tirmizi

Disebutkan dalam sebuah riwayat :

” إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ ”

“Sesungguhnya pada kematian itu terdapat rasa sakit yang berlapis”.

Ada seorang lelaki berkata kepada ayahnya yang sedang sakaratul-maut, “Terangkanlah kepadaku sakitnya sakaratul maut untuk menjadi pelajaran”. Jawabnya, “Wahai anakku, sakitnya bagaikan duri berbengkok yang digelandang di dalam perutku, dan aku seolah-olah hanya bernafas di lobang jarum”.

Dikatakan kepada orang lain yang akan meninggal, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”, Ia barkata, “Seakan-akan banyak pisau disayat-sayatkan kesana kemari di dalam tubuhku”.

Seorang lainnya yang sedang menghadapi sakaratul maut ditanya, “Bagaimana dengan sakitnya kematian”. Jawabnya, “Seakan-akan ada api membara di dalam perutku”.

Barangsiapa selalu mengingat kematian, akan lembut hatinya, menjadi baik perilakunya, tidak gegabah berbuat maksiat, tidak melalaikan kewajiban, tidak lagi tergiur oleh pesona dunia, dan justru rindu kepada Tuhan-nya dan surga yang penuh kenikmatan.

Barangsiapa melupakan kematian, akan keras hatinya, condong kepada dunia, buruk perilakunya, dan panjang angan-angannya. Maka mengingat kematian adalah nasihat dan teguran yang paling menyentuh hati.

Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

” أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ ”

“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yaitu kematian.” HR Tirmidzi dan An-Nasaai. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.

Yang dimaksud penghancur kelezatan dalam hadis tersebut ialah pemutus kelezatan yang menyebabkan semua kenikmatan menjadi sirna.

Ubay bin Ka’ab -radhiallahu ‘anhu-, berkata :

” كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ قَامَ فَقَالَ :ياَ أَيُّهَا النَّاسُ!، اُذْكُرُوا اللهَ، جَاءَتِ الرَّاجِفَةُ، تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ، جَاءَ الْمَوْتُ بِمَا فِيْهِ ”

“Jika telah lewat sepertiga malam maka Nabi- shallallahu ‘alaihi wasallam- berdiri dan berkata, “Wahai manusia sekalian, berzikirlah kepada Allah, telah dekat saatnya tiupan sangkakala pertama, yang akan diikuti tiupan sangkakala kedua, telah datang kematian dengan segala yang menyertainya.” HR Tirmidzi, dikatakannya, “hadis hasan”.

Abu Darda’ berkata :

” كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا وَالدَّهْرِ مُفَرِّقًا، الْيَوْمَ فِي الدُّوْرِ غَدًا فِي الْقُبُوْرِ ”

“Cukuplah kematian sebagai peringatan, dan cukuplah masa sebagai pemisah. Hari ini di rumah-rumah, besok di kuburan”. Diriwayatkan Ibnu Asakir.

Kesempurnaan kebahagian seseorang, kejayaan dan kemakmurannya hanyalah terwujud pada kesiapannya dalam menyambut kematian. Kematian adalah pintu pertama menuju surga atau neraka.

Kesiapan menyambut kematian ditandai dengan pemantapan tauhid kepada Allah, Penguasa alam semesta, beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, apapun juga.

Anas -radhiallahu anhu- berkata, “Aku mendengar Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

” قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً ”

“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu tanpa menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” HR Tirmidzi, beliau berkata : hadis ini hasan.

Persiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan menjaga ketentuan hukum Allah dan menjalankan kewajiban terhadap-Nya.

Allah berfirman :

وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ [ التوبة/112]

“Dan mereka yang menjaga ketentuan-ketentuan hukum Allah. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman”. Qs At-Taubah : 112.

Kesiapan menyambut datangnya kematian adalah dengan menjauhi dosa dan kesalahan.

Allah berfirman :

” إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا ” [النساء/31]

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang terlarang, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).” Qs. An-Nisaa : 31

Kesiapan akan datangnya kematian juga dengan menunaikan hak-hak orang lain tanpa mengabaikannya atau menundanya. Sebab hak Allah bisa jadi Allah maafkan selain kesyirikan. Adapun hak sesama manusia, Allah tidak memaafkannya kecuali dengan mengambilkan hak tersebut dari pihak yang menzalimi untuk diberikan kepada pihak yang dizalimi.

Persiapan akan datangnya kematian juga dengan menulis wasiat dan tidak lalai dalam penulisannya.

Termasuk kesiapan menyambut datangnya kematian ialah sikap antisipatif akan tibanya kematian itu setiap saat. Ketika turun firman Allah –subhanahu wa ta’aala- :

” فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ”
“Barangsiapa yang Allah ingin memberi petunjuk kepadanya, maka Allah lapangkan dadanya untuk Islam.” Qs Al-An’aam : 125.

Maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

” نُوْرٌ يَقْذِفُهُ اللهُ فِي الْقَلْبِ ”

“Suatu cahaya yang Allah letakkan ke dalam hati”. Para sahabat bertanya, “Apa tandanya wahai Rasulullah?” Nabi bersabda :

“الإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ وَالتَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ وَالاِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِهِ”

“Selalu bersikap kembali menuju negeri yang abadi dan menjauh dari negeri yang menipu serta kesiapan diri menyambut kematian sebelum tiba”.

Kebahagiaan adalah bilamana seseorang mati dalam kondisi husul khotimah. Dalam hadis disebutkan :

” الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيْمِ ”

“Amal perbuatan itu tergantung kondisi akhirnya”

Mu’adz -radhiallahu anhu- berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

” مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ ”

“Siapa yang ucapan terakhirnya “Laa ilaaha illallahu” akan masuk surga.” HR Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih.

Di antara amal saleh yang ditekankan untuk dikerjakan adalah menalkinkan (kalimat tauhid) kepada orang yang menghadapi sakaratul maut dengan cara lemah lembut. Yaitu dengan menuntunnya mengucapkan syahadat agar orang tersebut mengingatnya, tanpa mendesaknya karena ia memang dalam kondisi sulit.

Abu Sa’id Al-Khudri -radhiallahu ‘anhu- berkata, “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Talkinkanlah La ilaha illallah kepada orang-orang yang akan meninggal di antara kalian.” HR Muslim

Sungguh celaka orang yang lalai akan kematian dan tidak mempersiapkan diri menyambut kedatangan kematian, bahkan terus menerus berbuat maksiat dan dosa, tidak bertahuid kepada Allah, berani melakukan kejahatan dan kezaliman dengan menumpahkan darah yang harus dilindungi, mengambil harta orang secara tidak sah, melalaikan hak-hak orang lain, serta tenggelam dalam syahwat, hawa nafsu, dan kelezatan, hingga kematian menjemput. Ketika itulah penyesalan tidak lagi berguna, dan tidak mungkin kedatangan ajal bisa ditunda. Allah berfirman :

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ، لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ . [ المؤمنون / 99 – 100]

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia pun berkata, “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal shalih untuk menutup amal yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada dinding penghalang sampai hari mereka dibangkitkan.” Qs Al-Mukminun : 99-100

Pada hari kiamat semakin besar penyesalannya. Allah berfirman ;

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ، أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ ، أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ، أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ، بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ ، [ الزمر/ 55-59]

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian sebelum datang azab kepada kalian secara tiba-tiba, sedangkan kalian tidak menyadari. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedang aku termasuk orang-orang yang memperolok (agama Allah). Atau supaya jangan ada yang berkata: ´Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa´. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, ´’Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku termasuk orang-orang yang berbuat baik’. Padahal sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan kamu termasuk orang-orang kafir”. Qs. Az-Zumar : 55-59.
Semoga Allah memberi keberkahan kepadaku dan kepada kalian dalam al-Qur’an yang agung.

=== 00 ===

Khotbah Kedua

Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta, Maha Raja, Maha Benar lagi Maha Menjelaskan. Hanya milik-Nya kebijakan yang sempurna dan argumen yang jelas dan kuat. Jika Dia berkehendak tentu Dia akan memberi petunjuk kepada kalian semuanya.

Aku memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Aku bertaubat kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Maha Kuat dan Perkasa.
Aku-pun bersaksi bahwa Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, yang benar dan terpercaya janjinya.

Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Mu dan rasul-Mu Muahmmad –shallallahu alaihi wa sallam- beserta seluruh keluarganya, sahabatnya, dan para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga hari kiamat.

Selanjutnya : Bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, tidak ada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, dan tidak ada yang merugi kecuali orang-orang yang melampaui batas dan bergelimang dalam kebatilan.
Kaum muslimin sekalian!

Lakukanlah cara-cara yang menyebabkan husul khatimah. Yaitu dengan menegakan kelima rukun Islam dan menjauhi dosa-dosa dan perbuatan zalim.

Penyebab paling penting untuk meraih husnul khatimah ketika ajal menjemput adalah sesantiasa berdoa kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- untuk mendapatkan husnul khatimah.

Firman Allah :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر/60]

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan doamu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (QS Ghofir : 60)

Maka doa adalah penghimpun segala kebaikan. Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyiir -radhiallahu anhuma- berkata : Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda :

” الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ”

“Doa merupakan ibadah.” HR Abu Dawud dan Tirmidzi, dikatakannya, hadis hasan shahih.

Dalam sebuah riwayat : “Siapa yang memperbanyak pengucapan doa :

” اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا , وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَمِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ ”

“Ya Allah perindahlah kesudahan kami dalam segara urusan dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan adzab akhirat”, niscaya meninggalnya tanpa terkena musibah.

Penyebab seseorang tertimpa su-ul khatimah (mati dalam kondisi buruk) adalah melalaikan hak Allah dan hak-hak sesama manusia, terus menerus berbuat dosa besar dan maksiat, serta meremehkan lambang-lambang kebesaran Allah, selain cenderung mencintai dunia dan melupakan akhirat.

Hamba-hamba Allah sekalian, sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada Nabi.

===== Doa Penutup ======

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.