Apa Makna dan Syarat Kalimat La ilaha illallah ?

0
1204

Apa Makna dan Syarat Kalimat La ilaha illallah ?

Dienul Islam itu terdiri dari tiga tingkatan yaitu : Islam, Iman dan Ihsan. Setiap tingkatan memiliki rukun. Syahadat yang artinya pernyataan bahwa tiada ilah ( sesembahan yang benar untuk diibadahi ) selain Allah dan bahwa Muhammad  adalah Rosul Allah, merupakan rukun yang pertama. Adapun ibadah tidak diterima kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlas kepada Allah  dan dengan ittiba’ Rasul . Ikhlas adalah suatu hal yang terkandung dalam persaksian bahwa tidak ada Ilah selain Allah ( لا إله إلاّ الله ), dan ittiba’ atau meneladani Rosul-Nya, yaitu yang terkandung dalam persaksian bahwa Muhammad adalah Rosululloh ( أن محمد الرسول الله ).

 

Orang yang hanya mengucapkan Laa Ilaha Illallah di lisan saja, sedang dia tidak mengerti maknanya, tidak mengikrarkannya, berdo’a masih kepada Allah , maka darah dan hartanya tidak akan terjaga sebelum ia mengingkari sesembahan-sesembahan selain-Nya.

Dengan demikian maka orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah haruslah yakin untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dan ikrarnya meliputi lisan maupun keyakinannya. Disamping keharusan beribadah hanya kepada Allah  saja, tunduk dan taat kepada-Nya, juga harus bara’ ( berlepas diri ) kepada selain-Nya dalam hal ibadah, ketaatan dan ketundukan yang bisa menghilangkan makna syahadat baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan.

Adapun dalil syahadat adalah firman Allah  Ta’ala :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ 

“ Allah menyatakan bahwa tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang berilmu ( juga menyatakan yang demikian itu ). Tak ada Ilah ( yang berhak disembah ) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Imran : 18)

Maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah . Pernyataan “tiada Ilah” menafikan ( meniadakan ) segala Tuhan yang disembah selain Allah , sedangkan pernyataan “kecuali Allah” menetapkan ibadah sebagai hak Allah  saja, tanpa sekutu bagi-Nya dalam ibadah kepada-Nya. Sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya atau kekuasaan-Nya.

Bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada Ilah selain Allah, padahal banyak tuhan selain Allah  yang diibadahi ? Bukankah Allah  sendiri menyebutnya sebagai alihah (tuhan-tuhan) dan para penyembahnya juga menyebutnya tuhan ? Allah ta’ala berfirman :

فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ ءَالِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ 

“…karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sesembahan-sesenbahan yang mereka seru selain Allah, diwaktu adzab Tuhanmu datang…” (QS. Hud :101)

Bagaimana mungkin kita menetapkan sifat ketuhanan bagi selain Allah , sedangkan para Rasul berkata kepada kaum mereka :

اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ 

“…beribadahlah kalian kepada Allah, tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya” ( QS. Al-A’raf : 59 )

Jawaban atas kerancuan ini menjadi jelas dngan menafsirkan kalimat “Laa Ilaha Illallah”, yaitu kita mengatakan : “Semua tuhan selain Allah  yang diibadahi ini memang disebut tuhan, tetapi semua tuhan itu merupakan tuhan yang batil, bukan tuhan yang haq. Mereka tidak memiliki hak ketuhanan sama sekali.

Hakekat dari tafsir tauhid adalah : Berilmu dan mengakui akan keEsaan Allah  dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya. Dan ini mencakup dua hal :

1. Nafyul Uluhiyah (menafikan semua sesembahan) selain Allah , yaitu mengetahui dan meyakini bahwa tidak ada hamba yang mempunyai hak Uluhiyah sedikitpun dan tidak berhak diibadahi, baik itu para nabi, para raja, yang mempunyai kedudukan atau tidak. Dan tidak seorangpun yang memiliki bagian sedikitpun dari Uluhiyah-Nya.

2. Menetapkan Uluhiyah ( hak ketuhanan ) hanya kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Juga menetapkan ke-Esaan-Nya dengan semua makna ketuhanan yang dicakupnya, dan semua sifat yang sempurna. Semua hamba tidak cukup hanya meyakini ini saja, tapi dia juga harus mewujudkannya dengan mengikhlaskan dien hanya kepadaNya, menegakkan Islam dan melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba yang ditujukan pada Allah  untuk mendapatkan ridho dan pahala dari-Nya.

Bisa difahami bahwa hakekat tafsir syahadat yang sempurna adalah bara’ ( berlepas diri ) dari sesembahan selain Allah , tidak membuat tandingan-tandingan bagi Allah , tidak mencintai sesuatupun melebihi cintanya kepada Allah , atau mentaati mereka seperti taatnya kepada Allah  dan tidak beramal untuk mereka sebagaimana beramal untuk Allah  yang kesemuanya dapat meniadakan Laa Ilaha Illallah. Allah berfirman :

وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ 

“ Dan mereka tidak akan bisa lari dari neraka.” (QS. Al-Baqarah ayat : 167)

Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah , yaitu dengan mencintai ( tandingan-tandingan itu ) sebagaimana mereka mencintai Allah . Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah , tapi kecintaannya ini belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam. Lalu bagaimana dengan orang yang mencintai sesembahan-sesembahan lebih besar dari kecintaannya kepada Allah ? Kemudian bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah saja tanpa mencintai Allah  sedikitpun ?

Syahadat ini juga tidak akan sempurna sebelum ia mencintai orang-orang yang bertauhid kepada Allah, berwali kepada mereka, menolong mereka dan membenci serta memusuhi ahlu kufur dan ahli syirik. Laa Ilaha Illallah tidak berguna jika hanya diucapkan dengan lisan saja, atau do’a-do’a yang tanpa bukti, tapi haruslah betul-betul memahami, meyakini, mengucapkan dan mengamalkannya. Ini adalah hal yang sudah paten dan saling berhubungan, tidak bisa dipisahkan, dan bila hilang satu saja maka batal semuanya.

Syarat-syarat “ Laa Ilaaha Illallaah” 

Syahadat  ‘Laa Ilaaha Illallah’ harus memenuhi tujuh syarat, di mana tanpa ketujuh syarat tersebut maka syahadat itu tak bermanfaat bagi yang mengucapkannya.Ketujuh syarat itu sebagai berikut:

1. Mengetahui makna ‘Laa Ilaaha Illallaah’, berdasarkan firman Allah  : 

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 

“Ketahuilah,bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.” ( Muhammad : 19 ) 

2.Yakin, yakni hendaknya orang yang mangucapkannya benar-benar yakin dengan makna yang ditunjukkan kalimat syahadat tersebut. Jika ia ragu-ragu maka hal itu tidak ada manfaatnya. Allah  berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” ( Al-Hujurat : 15 ).

3.Qabul ( menerima ), apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat tersebut yakni beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak beribadah kepada yang selain-Nya. Barangsiapa yang mengucapkannya tetapi ia tidak menerima bahwa hanya kepada Allah saja kita beribadah, berarti ia termasuk dalam kelompok yang difirmankan Allah  dalam ayat-Nya :

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“ Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, Laa Ilaaha Illallah (tiada sesembahan yang haq selain Allah) mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?” ( As-Shaffaat : 35-36 ).

4. Inqiyad (patuh) terhadap makna yang ditunjukkannya. Allah  berfirman :

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى 

“ Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” ( Luqman : 22 )

Makna ‘yuslim wajhahu’( menyerahkan diri ) adalah ‘yanqadu wa yakhdha’u’ ( tunduk dan patuh ), sedangkan ‘al-urwatul wutsqa’( buhul tali yang kokoh ) adalah ‘Laa Ilaaha Illallah’.

5. Shidq (jujur), yaitu hendaknya orang yang mengucapkan kalimat ini benar-benar jujur dari dalam hatinya membenarkannya tidak mengingkarinya, sebagaimana disabdakan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ 

“ Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya secara jujur dari dalam hatinya, kecuali Allah mengharamkan dirinya dari neraka.” ( HR. Bukhori dan Muslim ).

6. Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala debu syirik, yaitu dengan cara tidak mengucapkan kalimat tersebut karena tujuan duniawi. Rosulullah  bersabda :

إنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النّارِ مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلا الله، يَبْتَغِيْ بِذلِكَ وَجْهَ الله 

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah ( dengan ikhlas dari hatinya ) karena mengharapkan ( pahala melihat ) wajah Allah.” ( HR. Bukhori dan Muslim ). 

7. Mahabbah (cinta) pada kalimat ini, serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Allah  berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah : 165).

Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih.

Sedangkan ahlu syirik menyekutukan Allah dan mencintai sesembahan-sesembahan yang lain disamping Allah . Dan ini tentu bertentangan dengan kandungan makna Laa Ilaaha Illallaah

Semoga pemaparan di atas bermanfaat

Maraji’:

1. Al-Quran Al-Karim

2. Al Qaulus Sadiid Syarh Kitabut Tauhid, syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di

3. Muqarrarut Tauhid Kitab Ta’liimi Lil Mubtadi’iin, Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdil Lathif

4.Syarh Tsalatsatul Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

 

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.