Apa saja Amalan di Bulan Sya’ban dan Hukum Nisfu Sya’ban

0
1376
Sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah  adalah dengan berusaha menjalankan ajaran islam sesuai kemampuan kita yang sebenarnya, bukan dengan memilih dan memilah, yang cocok dengaan hawa nafsu diterima dan dan yang tidak sesuai hawa nafsu ditentang, seorang muslim yang paling baik imannya adalah yang paling sesuai amalannya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah   serta yang paling ikhlas kepada Allah . Sungguh merupakan suatu musibah dan tipu daya setan apabila seorang muslim melaksanakan suatu amalan yang menghabiskan dana, tenaga dan waktu yang tidak ssedikit, sedangkan amalan tersebut tidak sesuai dengan aturan-aturan Allah   dan tanpa ada contoh dari Rasulullah .

Allah   berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُواْ لَهُمْ مِنَ الدِّّيْنِ ماَ لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ

Artinya: “ Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah.” ( QS. As-Syuro:21 )

Dan di dalam shohihain dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذاَ ماَ لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدُّ

Artinya: “ Barangsiapa mengada-adakan perkara baru yang bukan bagian dari urusan kami maka ia tertolak.”

Malam Nishfi Sya’ban

Dan termasuk perkara baru yang diada-adakan adalah memperingati malam nishfu sya’ban serta pengkhususan siangnya dengan ibadah puasa, membaca kisah-kisah di masjid, berdzikir dan berdoa secara khusus padanya, dan lain sebagainya dari berbagai khurafat maupun kesyirikan yang terjadi di dalamnya, seperti menjadikan bulan ini sebagai ajang untuk berziarah kubur lalu meminta berkah kepada para arwah. Padahal amalan ini tidak ada sama sekali dalil yang dapat dijadikan sandaran, sedangkan hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaannya semuanya adalah lemah ( dho’if ) dan tidak dapat diamalkan.

Adapun semua dalil yang ada mengenai keutamaan pengkhususan sholat pada malamnya, maka semuanya adalah hadits-hadits palsu (maudhu’), sebagaimana diterangkan oleh para ulama.

Diantaranya adalah Imam Nawawi Rahimahullahu ta’ala, beliau berkata dalam kitabnya Al-Majmu’: “ Sholat yang terkenal dengan sebutan sholat Ar-Roghoib yaitu 12 rakaat antara maghrib dan isya’ pada malam jum’at pertama bulan rojab serta sholat malam nishfu sya’ban 100 rakaat, dua macam sholat ini adalah bid’ah lagi munkar.”

Dan dalam shohih Muslim dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Nabi Shalallahu alaihi wa salam telah bersabda :

Artinya: “ Janganlah kalian mengkhususkan malam jum’at dengan sholat dari malam-malam lain, dan janganlah mengkhususkan siangnya dengan puasa dari hari-hari yang lain, kecuali pada hari yang terbiasa ia berpuasa padanya.”

Jikalau mengkhususkan malam-malam tertentu dengan sesuatu dari ibadah adalah boleh, tentunya malam jum’at lebih lebih utama dari yang lain, sebab hari jum’at adalah hari yang paling baik, berdasarkan hadits-hadits Nabi . Tetapi ketika Nabi melarang mengkhususkan malam jum’at dari malam-malam lainnya dengan sholat, maka ini menunjukkan bahwa malam-malam selain jum’at lebih-lebih lagi tidak diperbolehkan. Maka dengan demikian, dilarang mengkhususkan suatu malam tertentu dengan ibadah ataupun ritual khusus, kecuali dengan dalil yang benar, yang menunjukkan diperbolehkannya pengkhususan tersebut. Sebagaimana malam lailatul qodar, yang Allah   sifati dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Begitu pula halnya dengan memperingati ataupun mengkhususkan hari-hari tertentu dari yang lainnya, butuh terhadap dalil yang benar.

Maka jikalau malam nishfu sya’ban atau malam jum’at pertama bulan rojab atau malam isro’ mi’roj disyariatkan mengkhususkannya dengan perayaan atau ibadah, tentu Nabi   telah memberikan bimbingan serta petunjuk kepada umat, atau paling tidak Nabi   sendiri pernah melakukannya, dan tentunya jika hal itu terjadi, niscaya para sahabat pasti akan mengkabarkannya kepada kita dan tidak akan menyembunyikannya dari kita, sedangkan mereka manusia terbaik setelah Nabi   dan paling berilmu sesudah beliau, semoga Allah   meridhoi para sahabat Nabi .

Alangkah bagusnya perkataan seseorang:

Dan sebaik-baik perkara adalah para pendahulu yang berada di atas petunjuk


Dan sejelek-sejelek perkara adalah para pembuat bid’ah yang diada-adakan

Kedudukan Bulan Sya’ban

Bulan sya’ban secara umum memang memiliki keutamaan secara keseluruhan tanpa ada perbedaan antara satu malam dengan malam lainnya.

Diantaranya adalah sabda Rasulullah :

“ Allah melihat kepada makhluk-Nya pada malam nishfu sya’ban, kemudian Allah mengampuni seluruh dosa hamba-Nya, kecuali yang melakukan kesyirikan atau pembangkangan”  ( hadits hasan).

Dan perlu diingat bahwa memperingati nishfu sya’ban dengan aneka perayaannya adalah termasuk dari pembangkangan dan terkadang di dalamnya diselingi dengan perkara-perkara syirik yang keduanya telah diancam oleh Rasul   dalam hadits di atas. Maka hendaklah kita berhati-hati, niat hati ingin baik tetapi malah mendatangkan murka   Allah .

Ibadah Apakah Yang Diamalkan ?

Maka berdasarkan keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa tiada amalan khusus pada tiap-tiap bulan kecuali dengan adanya dasar dari Allah   maupun dari Nabi . Oleh  karena itu, hendaklah seseorang beramal dengan apa yang mudah baginya tanpa memberatkan diri sendiri, sebab sebuah amalan yang kecil dapat menjadi besar pahalanya dan kedudukannya di sisi Allah   dengan kesempurnaan niat, kesungguhan dalam ibadah, mengikuti Nabi dengan sempurna dalam tata caranya, ataupun dengan hal-hal lainnya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama.

Adapun pada bulan sya’ban, maka secara umum, kita diperintahkan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan, dan secara khusus diminta untuk memperbanyak puasa, dalam rangka membiasakan diri untuk menyambut datangnya bulan suci ramadhan, agar manusia tidak dikagetkan dengan sesuatu yang tidak biasa mereka lakukan yaitu puasa sebulan penuh di bulan suci ramadhan, hingga menyebabkan kesusahan bagi mereka.

Sebagaimana dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiyallahu ta’ala ‘anha beliau berkata:

ماَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِياَمَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ شَهْرُ رَمَضاَنَ، وَماَ رَأَيْتُهُ فِيْ شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِياَماً فِيْ شَعْباَن

“ Tidaklah sekalipun aku melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan ramadhan, dan aku juga tidak pernah melihatnya lebih banyak berpuasa pada suatu bulan melebihi puasanya pada bulan sya’ban”.

Dan hanya kepada Allah  kita memohon semoga Dia memberikan taufiq kepada kita dan segenap kaum muslimin untuk dapat berpegang teguh di atas sunnah dan waspada dari apa yang menyelisihinya. Sesungguhnya Dia-lah Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Mulia, dan sholawat serta salam untuk Nabi kita Muhammad , keluarga, sahabat, dan pengikutnya sampai hari akhir. Wallahu a’lam bi showab.

Abu Nufaisah As-Samaronji.

Rujukan:

– Al-wajiz, Abdul Adzhim Badawy.

– Al-fatawa, Syaikh Mahmud Syaltut,tahqiq & takhrij Syaikh Ali Hasan.

– At-tahdzir minal bida’, Syaikh Ibnu Baaz.

NB : Demi menjaga kehormatan saudara kita, mohon di sertakan sumber dan linknya ketika share artikel dari kami, Jazakumullahu Khairan

====================================
Daftar Whatsapp Nasehat Seindah Sunnah

Nama # Umur # L/P # Alamat kirim ke +62 852 1119 3332 ( Registrasi via Whatsapp langsung bukan via Sms )

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.