PEMBERSIHAN MUSLIM SUNNI IRAK OLEH MILISI SYIAH PRO IRAN

0
1740

PEMBERSIHAN MUSLIM SUNNI IRAK OLEH MILISI SYIAH PRO IRAN

Selama periode 2006-2009 secara signifikan Irak mengalami gelombang pembantaian dan pembersihan etnis, terutama di wilayah Irak Tengah.

Di Baghdad, daerah yang hampir seluruhnya berpenghuni penduduk Sunni,menjadi target serangan milisi Syiah dalam serangan balasan berdarah menyusul penghancuran Masjid Samarra oleh ekstrimis pada tahun 2006. Ribuan orang mati dalam pembantaian dan para ahli memperingatkan bahwa setelah pembersihan ini, komposisi Baghdad berubah dari 65% Sunni menjadi 75% Syiah.

Sekali lagi pada tahun 2014 dan 2015, Sunni secara sistematis menjadi target dalam pembunuhan balas dendam dan pembantaian. Desa Sunni yang sangat menderita di bawah kendali ISIS telah menjadi target serangan balasan oleh Iran yang didukung milisi Syiah dengan alasan “membebaskan” wilayah tersebut.

Milisi Syiah seperti Brigade Badr dan Asaib Ahlulhaq, yang bekerja bersama tentara Irak dengan dukungan AS untuk memerangi ISIS, adalah kelompok yang sama yang memimpin pembantaian terhadap Muslim Sunni beberapa tahun yang lalu.

Perang melawan ISIS telah dilancarkan di daerah dengan populasi campuran Syiah – Sunni di mana ISIS diperkirakan berada dalam kondisi paling lemah. Namun, di beberapa wilayah dimana ISIS berhasil dikalahkan seperti kota Jurf al-Sakhar; 70.000 Sunni terpaksa mengungsi dan banyak lainnya ditembak oleh milisi yang dilatih dan didanai oleh Iran.

Di desa-desa Sunni sebelah utara Baghdad, seluruh penduduk sipil telah melarikan diri dan komandan Syiah secara terbuka menolak untuk membiarkan Sunni kembali, kami tidak akan mengijinkan mereka “melakukannya kepada kami lagi” – menunjukkan kecenderungan untuk menyalahkan semua Sunni untuk “dosa-dosa” ISIS.

Di banyak daerah Sunni dimana warga melarikan diri ketika ISIS menguasai wilayah mereka. Namun, sejak pengusiran ISIS, milisi Syiah menolak untuk membiarkan puluhan ribu Muslim Sunni kembali ke rumah mereka dan tidak jelas apakah mereka akan diizinkan kembali nantinya,

Politisi Sunni Hamed Al-Mutlaq menyatakan kepada AP: “Apa yang kita hadapi di sini adalah upaya nyata perubahan demografi … Sekarang sangat sulit bagi kaum Sunni untuk kembali ke rumah mereka … rasa takut telah menghentikan mereka.”

Penolakan yang memungkinkan Sunni untuk kembali ke rumah mereka sangat terlihat di provinsi Diyala yang baru-baru dinyatakan telah dibersihkan dari ISIS. Provinsi ini merupakan titik persimpangan penting bagi banyak rute ziarah Syiah dan akibatnya milisi pro-Iran yang menduduki rute kunci tersebut mengatakan bahwa mereka hanya akan memungkinkan “warga negara yang setia” yang bisa kembali ke rumah mereka – pernyataan ini dipahami sebagai non-Sunni.

Selama pertempuran di Diyala pada pertengahan Januari 2015, di desa Barwanah ditemukan kuburan massal sekitar 70 Muslim Sunni; setelah milisi Syiah memasuki desa dan membunuh semua warga sipil yang mereka temukan di sana.

Amnesty International telah mendokumentasikan secara ekstensif upaya sistematis pembunuhan kelompok laki-laki Sunni di banyak wilayah Irak oleh milisi tersebut. Pembersihan ini sering dilakukan dengan cara yang sama dengan yang terlihat selama periode 2006-2009. Dalam beberapa kasus milisi ini menuntut uang tebusan bagi mereka yang diculik, dan kemudian membunuh mereka meskipun uang tebusan telah dibayar.

Amnesty menyatakan bahwa salah satu tujuan dari pembunuhan ini adalah untuk meneror masyarakat umum dan memaksa seluruh masyarakat Sunni melarikan diri.

Tokoh senior dari Administrasi AS memperingatkan bahwa senjata Amerika yang disumbangkan kepada tentara Irak untuk melawan ISIS telah berakhir di tangan milisi ini dan sedang digunakan untuk melakukan pembantaian terhadap warga sipil Sunni.

ISIS selama ini telah melakukan pembunuhan massal terhadap warga Syiah dan warga non-Muslim di seluruh Irak. Namun, pembalasan oleh milisi yang didukung Iran dengan alasan memerangi ISIS juga mengusir dan membunuh warga sipil.

Pemerintah Irak mengutuk pembataian tersebut, tetapi tidak menunjukkan kemauan politik untuk mengendalikan milisi seharusnya bekerja di bawah komandonya. AS dan negara-negara Barat lainnya juga tampaknya enggan untuk mengambil tindakan apapun yang dapat mengalihkan perhatian dari memerangi ISIS.

Sementara itu, Iran telah terlihat jelas dalam mendukung milisi melalui dana, senjata, pelatihan militer dan kunjungan dari tokoh-tokoh senior Iran untuk mendorong milisi Syiah melanjutkan tugas mereka.

Periode 2006-2009 adalah periode gelombang pembersihan Muslim di Baghdad dan bagian lain dari Irak yang secara permanen menghapus populasi Sunni.

Hari ini, kita menyaksikan bab berikutnya dari kejahatan terhadap kemanusiaan saat milisi yang didukung Iran berusaha untuk menghapus secara permanen populasi Sunni dari provinsi Irak tengah sementara dunia hanya duduk diam.

Sumber : Citizens For Bahrain

 

  • Artikel ini diposting oleh Website Seindah Sunnah
  • Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami
Segera daftarkan nomer antum untuk mendapatkan Broadcast Dakwah WhatsApp Seindah Sunnah, klik ini
  • Kurma Ajwa Nabi Asli Madinah Grosir dan Eceran klik ini
Dukung Seindah Sunnah dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
  • IKLAN di Website ini hubungi WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0454-730-654 a.n. Musa Jundana
  • Mohon untuk konfirmasi donasi ke WhatsApp berikut : +62 853 2525 8908

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.